Film bagus, film jelek, apa sebenarnya takarannya?

Saya bilang film A bagus, tapi teman lain berpendapat sebaliknya. Mengapa adegan yang sama, membawa dampak berbeda? Apakah hanya digaris bawahi soal selera saja? Padahal, Socrates sendiri jelas-jelas mengatakan bahwa selera adalah sesuatu yang tidak usah dipertanyakan.

Kalau selera itu ikut dihitung, maka banyak variabel lain yang ikut serta. Mulai referensi film orang itu, pengetahuannya, dan masih banyak lagi.

Wahyu, teman saya menengahi, “Sebenarnya harus tahu pula tujuan orang itu menonton apa?” katanya. Kalau orang menonton film superhero, lanjut Wahyu, yang diharapkan tentu saja adegan pukul-pukulan, visual effect, serta bagaimana tokoh favorit seseorang itu terjadi di layar kaca

Kritikus film yang saya kagumi Roger Ebert bisa saja menyebut Hulk versi Ang Lee lebih bagus karena tidak sekadar memanjakan penonton dengan adegan action dan animasi murahan semata. Tapi tak semua bisa menerimanya.

Opening film sekitar USD70 juta harus dibayar mahal karena setelah itu pendapatannya anjlok. Menurut Wikipedia, itu karena tersebarnya omongan negatif dari mulut-ke-mulut yang mengaku kecewa terhadap Hulk versi Lee, sutradara peraih Oscar itu. Hulk pun berakhir tidak menutup modal.

Incredible Hulk di lain sisi, adalah film yang sangat nikmat di tonton. Sangat Hollywood sekali, menurut saya. Namun, Ebert pun mengawali lead review-nya dengan kalimat bernada sarkastis, “The Incredible Hulk” is no doubt an ideal version of the Hulk saga for those who found Ang Lee’s “Hulk” (2003) too talky, or dare I say, too thoughtful,”. Laga Hulk vs Abomination yang terakhir kali saya lihat di komik, disebut Ebert sebagai “noisy and mindless action sequences”.

Ini terjadi pula pada Kung Fu Panda dan The Happening. Saya ikut teriris ketika Kung Fu Panda, yang tokoh utamanya Po–disuarakan oleh komedian favorit saya Jack Black–disebutnya biasa saja. “Kung Fu Panda is not one of the great recent animated films. The story is way too predictable, and truth to tell, Po himself didn’t overwhelm me with his charisma,”. Padahal, saya bersiap-siap melabeli Kung Fu Panda sebagai film animasi paling segar tahun ini.

Puncaknya adalah film thriller The Happening. Si raja twist, M. Night Shyamalan, bagi saya adalah otak jenius yang menggagas psychological horror The Sixth Sense, Unbreakable, dan Signs. Tapi, Happening bagi saya adalah film terburuknya setelah Lady in the Water dan The Village.

Film itu punya premis menggebrak, tapi twist yang menggelikan. Tidak masuk di otak saya bagaimana tumbuhan melakukan “balas dendam” kepada manusia dengan menyebar zat kimia. Hanya si cantik Zooey Deschanel yang membuat saya bertahan (saya ngefans sejak The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy). Tapi, lagi-lagi, Ebert adalah sekian minoritas yang memuji film itu, mengatakan bahwa “The Happening is a movie that I find oddly touching”.

Well, tulisan ini sebenarnya enggak jelas mau ngomongin apa. Intinya sih, saya sebal mengapa Ebert memberi poin negatif film-film yang saya anggap bagus, dan sebaliknya. Karena biasanya saya dan Ebert sependapat. He-he-he.

Iklan