Perubahan itu, menurut saya, memang perlu untuk menghadapi kondisi yang stagnan. Apalagi kalau grafiknya tidak naik, tapi justru menurun. Harus ada penyegaran, supaya timbul lagi ide-ide anyar, lahir kemudian semangat baru. “Change is the watchword of progression,” kata Ella Wilcox.

Tentu saja, perubahan itu tidak selalu ditanggapi dengan lempeng. Apalagi perubahan yang drastis. Sudah pasti akan meletupkan friksi atau gesekan. Tapi, apakah kemudian harus berhenti? “Just do what must be done. This may not be happiness, but it is greatness,” jawab George Bernard.

Saya sendiri juga terkadang ngedumel, marah, dan emosi terhadap perubahan itu. Apalagi bila tuntutannya berat, sementara harus dikerjakan dengan cepat. “Arrrhhgg, bukan seperti ini caranya!” teriak saya. Tentu, saya hanya berteriak dalam hati.

Karena, jauh di lubuk hati saya juga merasa bersemangat sekali. Semangat yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya sejak bekerja di kantor ini. Ya, karena saya membayangkan kedepannya bahwa perbuahan ini akan menuju, atau setidaknya menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Diskusi, bertukar pikiran, berkonsep, ah, senang sekali. Sampai malam pun saya rela melakukannya.

Marah? Silahkan. Ngomel? Boleh. Tapi, tetap lakukan pekerjaan dengan semangat, tetap berusaha sebisanya. Jangan lantas ngomel dan menyimpan dendam, lantas ujung-ujungnya mutung dan ngambek. Apalagi kemudian mencari-cari kesalahan, dan menjelek-jelekan seseorang dibelakangnya. Karena sesuatu yang baik, harus dicapai dengan kerja keras, walau tubuh dan pikiran meronta. Kalau nanti hasil baiknya sudah terlihat, kita akan tersenyum bersama.

Iklan