Saya baru sadar kalau punya mobil di Jakarta itu biayanya mahal sekali. Dan ini diluar biaya maintenance dan bensin, lho. Lantas biaya apa? Tol dan parkir.

Saya dan Doni lumayan kewalahan saat harus “ngopeni” Mazda 3 Hatchback Facelift 2.0 selama lebih dari 4 hari untuk test drive. Bayangkan, untuk nginep di parkir deket kos, charge-nya Rp15 ribu semalam. Ditaruh kantor? Malah gila. Perjam lebih dari Rp2 ribu.

Kami sempat beberapa kali liputan menggunakan pemenang Sports Car of The Year 2007 itu. Buset, hasilnya lumayan juga. Tiap parkir bisa di-charge Rp5000-Rp16 ribu. Belum bayar tol, yang dalam kota aja bisa nyampe Rp5.500. Aarghh. Lama-lama duit “kecil” gini bikin dompet cepat tipis.

Oke, now lets talk about new Mazda 3. Nih mobil 2000 cc harganya 286 juta OTR. Kelasnya Subaru Impreza WRX, Peugeot 308, Nissan Latio, dan Ford Focus? (yang terakhir saya kurang yakin).

I tell you what, harga emang nggak bohong. Saya juga baru ngeh, kalau tiap mobil memang punya “strata” sendiri. Kelas 100 jutaan, 200 jutaan, 300 jutaan berpengaruh besar sekali. Naik Soluna, Vios, terus ke Mazda 3 perbedaannya signifikan. Mulai kadar kedap suara di kabin, desain panel dashbor, mesin, dan 1001 macem lainnya.

Tenaga Mazda 3 sedikit ngesot dengan perseneling activematic-nya. Tapi, begitu switch di manual, lupayan responsif kok. Saya sendiri sangat suka kedinamisan desain Mazda yang one of a kind. Dari garis lekuk bodi, grill, velg racing 18 inchi, sampai lampu LED yang cantik. Cuma, suspensinya agak keras. “Suspensi mobil sport memang seperti ini, agak keras,” kata Doni.