Sebagai polisi di Macau, Shing justru menjalani keseharian para pelaku kriminal. Ia bermain judi seharian, menghabiskan malam di klab, dan bermain seks dengan banyak wanita.

Sampai suatu hari, seorang gadis cantik memukul kepalanya dengan sebuah botol bir. “Kau tidur dengan ibuku,” kata gadis 18 tahun itu kepada Shing.

Cerita pun mulai bergulir. Yan, nama gadis itu, mengatakan bahwa ia adalah putri Hua, pacar Shing saat remaja dulu. Mulanya Yan minta dibayari uang apartemen yang nunggak, sebelum meminta Shing mencari Isabella, anjingnya yang hilang.

Belakangan diketahui bahwa Isabella adalah nama panggilan Hua, yang ditinggal Shing dalam keadaan hamil. “Aku berjanji menjaga anjing ini sebelum ibu meninggal,” kata Yan.

Hubungan bertolak belakang ayah-anak yang tidak pernah bertemu sebelumnya ini justru semakin menarik setelah mereka mulai akrab. Seiring kaitan personal yang kian intens, konflik segar pun bermunculan. Terkadang lucu, seperti ketika Yan berusaha mengusir pacar-pacar ayahnya. Diam-diam, Yan mulai menyayangi sang ayah.

Sutradara Ho-Cheung Pang menggiring film ini agak lambat. Bahkan butuh mood untuk menikmatinya. Namun, begitu terhanyut sulit untuk beranjak. Terutama dengan musik latar arahan Peter Kam yang sederhana, namun tertata apik. Itu bersatu manis dengan akting cemerlang Chapman To (Shing) dan Isabella Leong (Yan). Keduanya sangat berkarakter.

Skenario Ho-Cheung juga bercerita lugas, kadang sunyi, bahkan tanpa bicara sekalipun. Ia membiarkan penonton berbikir dan merasa.

Iklan