BBM mau tidak mau harus naik. Ketika kita punya kesempatan menggunakan bahan bakar alternatif yang lebih murah seperti gas (BBG), infrastrukturnya justru tidak digarap oleh pemerintah.

Karena terlanjur menggantungkan energi sepenuhnya kepada BBM, maka pemerintah pun kelabakan ketika harga minyak dunia melonjak. Tentu saja, karena ketiadaan sumber daya alternatif. “Negara penghasil minyak seperti Iran saja pakai BBG yang murah. Sementara minyaknya dijual. Indonesia kebalikannya. Malah pake yang mahal,” kata seorang pakar dalam dialog yang saya tonton di TVRI.

Saya juga yakin lebih banyak yang merasakan keputusan kenaikan BBM ini membawa mudharat daripada manfaat. 14,1 triliun untuk BLT, dinilai banyak pengamat tidak efektif. Apalagi prakteknya tidak dikontrol dan tidak tepat sasaran. Reportase Trans TV semalam membahas banyak orang mampu yang justru menerima BLT.

Padahal salah satu syarat penerima BLT adalah warga miskin yang tidak memiliki agunan setidaknya senilai 500 ribu. Namun, prakteknya, banyak warga yang menggunakan kalung dan anting emas datang tanpa malu-malu menerima BLT 300 ribu selama 3 bulan itu.

“Sepertinya petugas pun cuek dan tidak peduli terhadap hal ini,” kritik si reporter. Setiap hari berita BLT ini bisa bervariasi. Ada warga miskin tidak dapat BLT karena sistem birokrasi buruk, data penerima tidak di update, dan lainnya.

Buntut dari kenaikan BBM adalah harga-harga kebutuhan pokok yang meroket, yang dengan santainya diucapkan oleh Marie E Pangestu, ”kenaikannya masih wajar,” saat meninjau pasar.

Selain harga kebutuhan pokok, tarif angkutan umum dan moda transportasi lainnya yang juga naik. Pemerintah belum mengumumkan kenaikan tarif baru, tapi para supir angkot sudah menaikkan tarifnya. “Lha, gmana, kalau nggak naik kami nggak untung. Sudah naik saja penghasilan makin tipis,” kata seorang supir angkot yang menaikkan tarifnya jadi Rp3000. Padahal, rencananya pemerintah hanya akan menaikkan tarif Rp2500.

Disudut pandang penumpang, lain lagi. “Kalau hanya jarak dekat sih nggak terlalu terasa ya. Tapi kalau harus oper-oper angkot kan jadi mahal banget,” kata seorang ibu.

Kenaikan BBM, bagi saya mulanya tidak berdampak terlalu signifikan. Setiap ngisi bensin tetap 10 ribu. Itu sudah memenuhi tangki Supra Fit saya. Bedanya kalau dulu sekali ngisi bisa 2-3 hari, sekarang jadi 1-2 hari.

Tapi ternyata, lebih dari itu. Buntut demo kenaikan BBM, seperti yang saya baca di koran hari ini, membuat IHSG turun lagi. Tentu saya panik, dan benar saja, reksadana saya yang sebelumnya sudah mulai menunjukkan sentimen positif jeblok lagi. Oalah, ternyata memang sekarang ini semua orang harus prihatin.

Iklan