DVD kolaborasi Chris Botti dengan Sting milik Ulum cukup menyentil rasa penasaran saya terhadap trumpeter yang sedikit mengingatkan saya pada Miles Davis ini. Tiupan terompet Botti maupun Davis lembut dan menyejukkan. Meski, aliran keduanya berbeda. Davis ketal jazz-nya, sementara Botti mengusung pop-jazz-kontemporer.

Tak lama setelah saya tahu musikus kelahiran kelahiran Portland, Oregon itu bakal berkonser di Jakarta, Italia, CD album terbarunya, mampir di meja saya (dikirim oleh Universal). Album itu, meski berisi lagu-lagu lama, punya aransemen yang dapat memainkan perasaan. Dari situ, saya makin tertarik.

Puncaknya, ketika Universal, lagi-lagi mengirim id-pers untuk menyaksikan konser Botti di gedung Nusa Indah Theater, Balai Kartini, Jakarta, Sabtu malam lalu. Wow, this gonna be fun, pikir saya. Dan memang terbukti.

Peniup trumpet yang sedikitnya telah merilis 10 album ini begitu piawainya melantunkan nada-nada mellow yang membius dan imajinatif.

Lagu poppish When I Fall In Love, Thousand Kisses Deep, My Funny Valentine, The Look of Love, hingga lagu-lagu terbaru di album Italia Ave Maria dan Caruso dibawakan dengan nada trumpet yang mengayun lembut. Disela-selanya, ia juga menyelipkan nuansa instrumental.

Konser itu bisa dibilang minimalis, tidak seperti lagu-lagu di albumnya yang dibawakan megah dengan orkestrasi. Botti hanya ditemani gitaris Mark Adrian Whitfield, pianis William Edward Childs, drummer William Earl Kilson, pembetot bas Robert Leslie Hurst, serta penyanyi LaShanda Reese. Namun, kolaborasi mutualisme diantara mereka terjalin sempurna.

Namun, saya benar-benar merasakan orgasme batiniah ketika Botti menyanyikan lagu fave saya sepanjang masa, Halleluya milik Jeff Buckley. Saya seperti disengat listrik voltase rendah yang memberikan rasa bahagia. Saya pejamkan mata agar indera pendengar dapat bekerja maksimal. Asyik sekali.

Tiupan trumpet Botti amatlah dinamis dan lincah. Bisa melengking tinggi, tipis panjang, serta lembut datar. Penuh penghayatan dan menyentuh hati.

Iklan