Bagaimana rasanya tinggal di apartemen? Pertanyaan itu akhirnya terjawab juga ketika semalam saya dan teman-teman mengunjungi Awi, teman satu kost yang kini tinggal di Apartemen Laguna Pluit, Jakarta Utara.

Tapi, jawaban yang keluar dari mulut Awi justru berkebalikan dari apa yang saya bayangkan. “Nggak enak, sepi,” katanya.

Lho, bukannya di apartemen itu banyak orang? bukankah apartemennya, yang mayoritas dihuni warga Chinese itu memberikan pemandangan menggiurkan? Tubuh-tubuh putih berambut dengan you can see dan hot pants mondar-mandir cuek? Wow, pemandangan yang benar-benar indah.

“Awalnya memang begitu. Apalagi waktu fitnes dan di kolam renang. Tapi, lama-lama juga bosan. Percuma juga toh, kalau ngeliat doang,”.

“Ya, coba aja, PDKT, siapa tau dapet,”.

“Gimana cara PDKT, orang pintu kamar selalu ditutup. Tetangga sebelah kamar gue aja nggak tau gimana bentuknya. Ada orangnya ato kaga,” curhatnya.

Awi memutuskan pindah karena memang lebih dekat dari tempat kerjanya. Apartemen Laguna Pluit itu sebenarnya amat nyaman. Dari mobil yang diparkir, jelas penghuninya rata-rata menengah keatas. “Banyak cewe simpanan pejabat atau pengusaha disini,” kata sembari menyebut harga sewa total (termasuk maintenance) perbulannya Rp1.5 juta.

Total ada empat tower 28 lantai berbentuk letter L yang saling menyatu. Dari atas terlihat seperti kubus yang tengahnya berlobang. Dibagian tengah terdiri dari kursi-kursi berpayung. Mirip seperti food court.

Ada bermacam makanan disitu. Rata-rata masakan Chinese, dengan kisaran harga Rp7 ribu-Rp15 ribuan. Saya mencoba bir dan kerang, yang kata Awi menjadi cemilan favorit disana. Setiap weekend, ada live band. Jadi, orang tak usah keluar untuk mencari hiburan. Fasilitas disana juga lengkap. Warnet, ATM, toserba, dan lainnya.

Tapi, lagi-lagi Awi mengaku tak nyaman. Kalau sudah diatas, mau ke bawah itu rasanya males banget. “Abis kerja, gue langsung ke kamar dan tidur. Jarang turun. Lagian mau ngapain? Nggak ada yang kenal juga,” ia mengungkapkan.

Suasananya tentu berbeda dengan rumah kost kami yang selalu saja ramai. Pukul 11-12 malam, teman-teman kost yang rata-rata kerja di media baru berdatangan. Selain ngobrol dan main gitar, kompetisi Winning Eleven digelar sampai pagi. Interaksi sosial selalu terjadi. Ini yang membuat tempat kost kami begitu menyenangkan. Dan cerita-cerita soal masa lalu pun membuat kami semua tertawa.

Overall, tinggal di apartemen di Jakarta ternyata tak seasyik yang dibayangkan. Ukuran apartemen Awi, dengan dua kamar terbilang kecil. Rasanya begitu sesak. Apalagi, bila tinggal sendiri. Apartemen, menurut saya, lebih cocok bagi pasangan muda yang menginginkan tinggal di dekat tempat kerja.

Iklan