Sore adalah salah satu grup indie yang lagu-lagunya bertahan jadi high rotation di iTunes maupun iPod saya. Kemarin, mereka saya undang ke kantor untuk mengobrol santai. Kepada Sarah dari Aksara, saya bilang “bawa gitar ya. Nanti nyanyi unplugged satu-dua lagu,”.

Eh, ternyata mereka juga bawa kibor dan gendang kecil. Haha. Asik juga. Seolah jadi peraturan tak tertulis, grup band yang berkunjung harus menyanyi dihadapan kru redaksi. Dari Letto, Nidji, Changcuters, D’cinnamons, dan masih banyak lagi.

Berdiskusi dengan grup-grup indie memang asyik. Karena rata-rata dari mereka bermain musik dengan hati, tanpa ada kepentingan komersial. “Kami bikin lagu sesuai idealisme, membuat sesuatu yang ideal menurut kita,” kata Romondo Gascaro.

Grup yang baru saja merilis album kedua Ports of Lima ini juga mengungkap betapa mereka berusaha menghadirkan penampilan live yang artistik. Dalam arti, menghadirkan bebunyian secara nyata dari instrumen yang dimainkan langsung. Ini merujuk pula pada album ekletik Ports of Lima yang begitu kaya akan bunyi.

“Saya kadang prihatin. Banyak band besar yang menghadirkan suara cello lewat kibor. Padahal kami selalu menyewa player, yang terkadang merogoh kocek sendiri demi menghadirkan bebunyian instrumen sesuai aslinya,” imbuh vokalis Echa yang juga mengungkap Ports of Lima direkam dalam 60 track.

Saya sempat bertanya-tanya, mengapa grup musik dengan aransemen sebagus mereka justru hanya didengarkan oleh sebagian kecil penikmat musik saja. Bermain di pensi atau venue-venue kecil. Kalau saja mereka lebih terkenal, bukankah bakal lebih banyak orang bisa mengapresiasi musik mereka.

Tapi lagi-lagi, mereka ini bermain musik dengan hati. Bukan untuk mencari uang dan setumpuk tujuan komersial lainnya. Jadi, biarlah Sore berjalan sesuai jalur dan visinya. Dan lagi, film yang bagus belum tentu laku kan?