Ini gara-gara Yohana, yang mempertemukan saya dengan Pak Pandu Ganesa dari Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI). Sekarang saya jadi penasaran untuk melahap buku-buku karangan May seperti Winnetou.

Siapa sebenarnya Karl May? Dulu saya tahu hanya namanya. Entah, dia itu pemikir, filsuf, ilmuwan, atau masih saudaraan sama Karl Marx. Hehehe. “Kalau orang tak tahu Karl May itu wajar. Yang salah bukan orangnya, tapi penerbit Indonesia yang tidak menerbitkan karya-karya May disini,” kata Pak Pandu saat mengobrol dengan saya di McDonalds Sarinah belum lama ini.

Dari obrolan singkat itu saya mendapati betapa pria berusia 50-an tahun yang baru saja saya kenal itu bisa mendeskripsikan dengan jelas A-Z tentang Karl May. Siapa dia, bagaimana hidupnya, apa saja bukunya, dan bagaimana May ini bisa menginspirasi banyak orang lewat karya-karyanya.

Buku-buku May, kata Pak Pandu, dibaca oleh Soekarno hingga sastrawan seperti Seno Gumira Ajidarma. Konon, remaja Indonesia tahun 30-an (yang kemudian dikenal sebagai perintis kemerdekaan) juga mengenal arti kemerdekaan setelah membaca buku May.

Katanya, kekuatan buku May adalah imajinasi dan deksripsi. May, yang pernah ke Indonesia itu bisa membuat cerita begitu detilnya tentang seorang Indian bernama Winnetou meski tidak pernah menginjak ranah Amerika.

Tapi yang membuat salut adalah bagaimana kolektif di PKMI ini menerjemahkan buku bahasa Jerman May, untuk menjual kembali, bahkan menyebarkannya secara gratis. “Kami adalah organisasi non profit. Kolektif penggemar buku satu-satunya yang menerbitkan buku sendiri. May menulis 80 buku, kita baru terbitkan 10. Jadi jalan kami masih panjang,” katanya.

Ada hal yang mengelitik saya dari pertemuan dengan pak Pandu, malam itu. Pertama, bagaimana menemukan ketertarikan dan antusiasme begitu tinggi terhadap May yang ada di diri Pak Pandu dan anggota PKMI lainnya. Terus terang, baru kali ini saya menemukan dan melihat kekaguman yang begitu besar terhadap seorang sastrawan.

Betapa pak Pandu, yang sudah berkeluarga, seorang penggemar musik rock sekaligus pengusaha itu masih punya waktu untuk menulis buku tentang May, mencari dana, serta menerbitkannya sendiri bersama rekan-rekan PKMI.

Ini sekaligus menyentil saya. Mengapa saya tidak memiliki sesuatu menarik hati saya begitu sangat selain pekerjaan ini. Betapa banyak waktu lenggang yang saya punya seperti musnah begitu saja. Saya baru sadar kalau nyaris tak punya hobi yang dijalani sungguh-sungguh selain mengunduh AV dari internet. Bobby, punya motor Honda CB 300 cc yang diotak-atiknya pagi malam. Et’e, kameramen yang saya temui di Kairo punya selingan bermain motocross saat libur. Kalau saya, apa ya?