Pilih new Mazda 6 atau Mazda CX-7?

Mulanya saya sih ingin menjajal Mazda 6, yang sering digunakan polisi di tol itu. Tapi sayang, ada lagi-lagi ada masalah di platnya. Akhirnya, CX-7 yang sudah berplat hitam pun dipilih. Dan pilihan itu tidak salah. SUV yang sudah pasarkan sejak 6 bulan lalu ini selain bertenaga juga nyaman.

Dengan mesin turbo, tenaganya menyalak. Meski, persenelingnya AT. Bodinya bongsor, jadi harus berhati-hati soal haluan. Dan believe me, membawa mobil ini menerjang kemacetan di binus bener-bener dag-dig-dug. Terutama trio motor, angkot, dan metromini yang nyetir tanpa rasa bersalah. Hehe.

Bagaimana tingkat kenyamanannya? Waktu nyetir, Doni 12 kali bilang “enakkeee…”. Hahaha. Dan memang enak banget. Kabinnya lega. Dashboardnya berkelas. Sound bose membuat sound quality terjaga. Terutama setelah CD Chris Botti diputar. Ah nyaman sekali. lucunya, sejak kemarin meminjam mobil, kami belum juga bisa memundurkan jok. wakaka.

—–
Jarak Jakarta ke Pantai Pelabuhan Ratu sekitar 130 kilometer seharusnya tak terlalu jauh. Tapi perjalanan itu bisa memakan waktu berjam-jam dan melelahkan. Ini semua gara-gara infrastruktur jalanan yang sempit dan rawan macet. Begitu pula medan jalan penuh kelokan tajam sebelum mencapai pantai.

Sepanjang jalan Jakarta-Pelabuhan Ratu saya was-was. Bukan karena tak biasa membawa mobil matic, tapi (lagi-lagi) karena motor dan angkot yang menyetir ngawur.

Saya, Doni, Ssk, dan Akung sampai geleng-geleng. Bagaimana kalau menggunakan mobil yang tidak se-premium Mazda CX-7. Pasti capeknya berkali-kali lipat. Dan menyesalnya, kami hanya menghabiskan tak sampai 1 jam di Pantai.

Begitu Akung selesai mengambil gambar mobil yang menebas gemulai pelan ombak, kita segera cabut. Lupakan Air Panas Cisolok, Gua Lalay, atau Samudra Beach Hotel yang jadi tempat bersemayam Ratu Nyi Roro Kidul itu.

Sisi positifnya, kami benar-benar mengetes kehandalan CX-7, yang cukup rakus mengonsumsi bensin (1:6 aja bok). Besok-besok, kita pilih tempat yang dekat-dekat saja. Fiuh.