Dulu saya gagap. Tentu saja, “kecacatan” ini membuat saya jadi bulan-bulanan. Gagap, menurut definisi saya sendiri, adalah ketika otak dan mulut tak bersinergi. Begitu besar energi untuk bicara, begitu banyak yang ingin diutarakan, tapi tidak singkron dengan mulut, karena terjadinya begitu cepat.

Awalnya gagap ini memang lucu. Tapi, setelah jadi kebiasaan tidak lucu lagi. Malah mengganggu. Terutama disaat-saat penting, bicara dengan lawan bicara yang penting. Lambat laun saya belajar mengatasinya. Caranya dengan melihat Public Relations, CEO, atau orang penting lainnya yang bicaranya enak. Teratur dan tertata.

Ternyata kuncinya di otak. Berpikirnya harus ditata dulu. Kalau sudah tau apa yang mau dikata, barulah mulut bicara pelan-pelan. Selesai. Done. Finish.

Tapi, ada satu lagi kekurangan bicara saya yang sangat mengganggu, dan sampai saat ini belum tau jalan keluarnya.

Apa itu? Panic attack atau serangan panik mendadak yang membuat kita tidak bisa berkata-kata dan berpikir. Stall. Setidaknya ada tiga kondisi terparah yang membuat saya mudah sekali terkena serangan panik ini.

Pertama, saat bicara di forum terbuka. Ketika banyak mata memandang, menanti apa yang kita ucapkan. Pah. Tenggorokan bisa kering mendadak, lidah pun kelu. Menyiapkan apa yang sudah dipikir sebelumnya pun tak membantu.

Kedua, bertemu cewek cantik. Ini agak norak. Kalau cewek itu, menurut saya, benar-benar cantik, entah kenapa saya jadi speechless dan salting. Intinya sih sama dengan yang pertama, takut salah ngomong dan memperbodoh diri sendiri.

Dan yang menyebalkan, dua hari lalu 11 finalis Miss Indonesia datang ke kantor. Maka, saya, Redpel, dan beberapa redaktur dan reporter lainnya pun tanya jawab. Beberapa finalis bertanya soal koran, kenapa begini kenapa begitu. Mengapa harus ini, mengapa harus itu. Rata-rata memang dijawab Redpel yang lantas ditambahi oleh rekan lainnya.

Di dalam hati, saya sebenarnya ingin sekali ikut menambahi jawaban-jawaban dari Redpel yang menurut saya masih lowong. Semuanya sudah ada di otak. Duh, seharusnya bisa bla bla, bli bli, ble ble. Tapi untuk mengucapkannya rasanya suliiiiit sekali.

Yang jadi masalah sebenarnya bukan forum terbukanya, yang cuma 20-an orang. Yang jadi masalah adalah lawan bicaranya 11 CEWEK-CEWEK CANTIK!!! Argh. Lagi-lagi saya takut kata-kata yang keluar dari mulut ini tidak singkron dan membuat saya terlihat bodoh. Sumpah, percaya diri saya menciut.

Oh ya, jangan keburu eneg. Karena masih ada yang ketiga. Yakni berada di lingkungan yang tidak saya kenal atau benar-benar baru. Ngopi dengan orang baru hampir tiap minggu saya lakukan. Tapi, bertemu 2 orang cewek asing sekaligus masih membuat saya canggung.

Kemarin, saya akhirnya ngopi dengan seorang gadis yang saya kenal lewat Facebook. Kami hanya kenal lewat chatting, sms, dan satu atau dua kali nelpon tak sampai 20 detik. Ternyata, waktu bertemu dia membawa temannya. Great. I tell you, bertemu 2 cewek asing sekaligus bukanlah pilihan bijak.

Karena, si cewek ini harus bisa membagi atau menengahi obrolan dengan saya, dan dengan temannya. Dia adalah ice breaker-nya. Pilihannya, temannya yang dicuekin, atau malah saya. Dan korban cueknya, yup, saya.

Kedua gadis ini sibuk bercanda sendiri, speaking their own language, bercanda gaya mereka. Saya adalah outsiders, gaujin. Dan yang bisa saya lakukan selain sok-sok nimbrung adalah, cengar-cengir, mengikutinya.

Jelas, posisi saya lemah. Saya masih harus mencari-cari topik yang kira-kira saya dan dia bisa nyambung. Definitely, it’s akward situation. Tapi, lagi-lagi dia lebih asyik bercanda dengan temannya itu. Oh well. Untungnya, pada akhirnya inisiatifnya jadi ice breaker mulai menguat.