“If you want something in life, reach it and grab it,” kara Christopher ”Alexander Supertramp” McCandless. Sebuah visi hidup yang mungkin tidak semua orang punya nyali, keberanian, dan keinginan untuk melakukannya.

Chris ingin menggapai ultimate freedom, kebebasan seutuhnya dengan menyatu di alam. Tanpa uang sepeserpun, kecuali backback besar dibalik punggungnya. An aesthatic voyager whose name is the road, sebutnya.

Setelah menyelesaikan kuliah dengan sebaris nilai A, maka mulailah petualangannya menjelajah daratan Amerika. Dari Arizona, California, South Dakota, ke Meksiko, untuk berakhir di Alaska.

Dari situ, sutradara/penulis Sean Penn menggunakan alur flashback untuk menggambarkan bagian demi bagian perjalanan Chris, interaksi dengan orang-orang yang ditemuinya di sepanjang jalan, serta keluarga yang mengkahawirkannya di rumah. Proses itu kemudian dibagi lagi ke dalam beberapa chapter yang bertumbuh.

Bagi saya In to the Wild adalah feel good movie. Film yang bisa begitu mengena di hati, tsyah. Meski, sebenarnya, menurut saya kisah hidup Chris masih kalah jauh dengan Agustinus Wibowo, orang Indonesia yang hingga kini pun masih berkelana di tempat-tempat paling terpencil di dunia, ke negara-negara yang hanya kita tahu di peta.

Namun, DOP canggih, konflik dan drama seimbang, cara bercerita yang nagih, plus soundtrack Eddie Vedder membalut film ini begitu hidupnya. Sean Penn butuh 10 tahun untuk memfilmkannya.

Oya, tas backpack biru besar yang dipanggul dibahu Chris mengingatkan saya pada seorang bule yang saya temui di bandara, sepulang dari Kairo. Ia duduk menunggu bis jurusan gambir sambil membaca-baca buku Lonely Planet Indonesia.

Tapi yang pasti, baik Chris, bule di bandara, maupun Avgustin, adalah orang-orang yang mewujudkan impian saya sejak masih SD, berkenala, melihat dunia dan kehidupan lain di luar sana.

Saya tidak punya nyali sebesar mereka, memilih berada dalam jalur normal. Seperti pekerja lainnya, pontang-panting menggapai apa yang disebut standar hidup di kota yang sumpek ini. Ketika sebuah tempat tinggal baru bisa lunas setelah 15 tahun atau lebih. Ya ampun, betapa susahnya membuat hidup, bahkan untuk orang yang mengenyam pendidikan S1 seperti saya sekalipun (bayangkan yang tidak?).

Tapi, suatu saat nanti, saya akan tinggalkan pekerjaan yang menyita waktu ini, saya dirikan restoran untuk dikelola orang lain, sementara saya mengejar mimpi saya untuk berjalan-jalan ke tempat-tempat yang saya inginkan. Hihihi. Semua orang boleh bermimpi kan.

Yang jelas, In to the Wild highly recommended. Masih ada 3 film lagi yang belum ditonton. August Rush, My Blueberry Nights, dan Juno. Hehe, telat ya, habis 2 bulan terakhir ini saya jarang nonton DVD sih.

Iklan