Haris, teman saya yang baru pulang dari Hong Kong punya cerita menarik. Seorang pria menegurnya ketika ia sedang asyik menghisap Dji Sam Soe di pinggir jalan.

“Halo, dari Indonesia ya? Boleh minta sebatang?” katanya. Setelah menyodorkan bungkus rokoknya, kemudian terlahir obrolan. “Cengkeh inilah yang membuat Belanda menjajah Indonesia,” canda pria itu sambil tertawa. Cerita serupa ditulis pula oleh penyair Sitok Srengenge dalam cerpennya Secangkir Kopi Untuk Vladimir Barakovsky.

Cerita itu membuat saya tersadar soal komoditas Indonesia yang begitu berharganya, cengkeh, yang menghasilkan rokok kretek atau flavored cigarettes.

Waktu kehabisan rokok di Kairo, saya tidak menemukan satupun toko yang menjual rokok kretek. Yang ada malah rokok murah Cleopatra, yang dihisap mahasiswa saat tidak punya duit (haha!). Rasanya seperti Ardath. Huek!

Dan ternyata, belum lama sweet-smelling kretek ini menjadi tren di generasi muda Amerika a.k.a kuliah dan SMA. Ini jelas bikin pusing US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang aktif mengkampanyekan anti-rokok. CDC memperkirakan, sekitar 4,400 remaja usia 12-17 tahun mencoba rokok pertama mereka. Tak heran pula, saya pernah melihat iklan Gudang Garam di majalah Penthouse US.

Di Indonesia bahkan lebih parah. Pemerintah peduli setan terhadap generasi muda yang merokok. 45 persen perokok berusia dibawa 20 tahun. Lebih dari ½ juta orang Indonesia dilaporkan menderita penyakit akibat merokok. Bahkan, Depkes memprediksi dalam 10 tahun kedepan ongkos untuk mengobati para perokok ini akan jauh lebih mahal.

Kenapa kampanye anti-merokok melempem? Well, pajak dari industri rokok yang diberikan ke negara ini terbesar setelah miyak dan gas. Diprediksi ada 140 juta perokok yang mengkonsumsi 204 miliar rokok pada 2002. Thats why.

Sebagai seorang perokok, entah saya harus bersyukur atau prihatin dengan kondisi ini. Di satu sisi, saya dengan mudah dan murah bisa mengisi paru-paru saya dengan asap rokok kretek yang memiliki nikotin dan tar lebih banyak daripada Marlboro. Disisi lain…ah, tau ah.