subaru
yes, check out this crazy cool blue Subaru

Dealer Subaru meminjamkan Doni produk terbarunya, Subaru Impreza Hatchback untuk di-review. Dasarnya mobil balap, meski dimodel hatchback, tetap saja unsur racingnya tidak hilang. Suaranya garang, tarikannya galak.

Kemarin siang, Doni dan Oji-penulis rubrik otomotif-sudah terlebih dulu melakukan tes drive. Nah, malam harinya giliran saya dan Ulum yang melakukan “tes drive” alias muter-muter kota. Haha. Maka berangkatlah kami bertiga ke Menteng untuk makan, sebelum berlanjut ngopi di Kemang. Pertimbangannya, di Kemang makanan mahal.

Diluar dugaan, makanan di Menteng ternyata lebih mahal, lebih busuk. Mereka men-charge harga seenak udel. Bayangkan, seporsi kecil tahu gejrot Rp8000, roti bakar Rp9000, dan bubur ayam Rp15000, wadefak??!!?? Mending enak. Ulum saja bilang roti bakar buatan saya jauh lebih gurih.

Tapi yang menarik justru saat kami bersiap masuk mobil untuk menuju Kemang. Di parkiran, dua cewek yang baru saja makan tampak menunggu taksi. Saya dan Ulum punya pikiran sama, kenalan, dan mengantar mereka pulang. Tapi Doni tidak setuju. “nggak usah, nggak usah!” katanya.

Dan benar saja, kami bersyukur tak melakukan itu. Karena beberapa meter setelah traffic light ada operasi yustisi. Masalahnya, mobil ini masih ber-plat putih. Yang berarti belum ada STNK, tetapi Surat Tanda Coba Kendaraan. Peraturan tak tertulis lainnya, maksimal hanya boleh dikendarai 2 orang di jalan raya.

Untunglah, saya dan Doni sama-sama membawa kartu pers. Kepada petugas yang menyetop, beralasan baru dari Bandung untuk test drive mobil dan sedang dalam perjalanan pulang.

Petugas pertama ini kroco. Terlihat dari cara ngeyelnya yang emosional dan tidak cerdas. ”Saya mau ketemu Komandannya saja,” kata Doni. Ide bagus. Beradu argumen dengan kroco berotak udang seperti ini bukan pilihan tepat. Si kroco ini menyebrang jalan, dan berbicara kepada polisi lainnya. Tak lama, ia memanggil kami.

Polisi yang terlihat berpangkat lebih tinggi ini kalem. Ia mengatakan kesalahan kami selain berkendara lebih dari 2 orang, juga karena alasan profit -whatever that means-. “Ditilang apa gimana nih?” katanya.

Kami kembali berargumen, membawa mobil ini semata karena tugas (cuih!) dari kantor, bukan untuk jalan-jalan atau apapun. Lha, tadinya kan emang dibuat liputan. Intinya, saya menolak untuk ditilang, juga menolak menyogok. Yes, we were assholes. Haha!

Akhirnya, setelah berdebat sebentar dan melihat kartu pers kami, ia akhirnya mengalah dan membiarkan kami pergi. Di jalan, kami tertawa-tawa sembari membayangkan, apa jadinya bila 2 cewek tadi ikut semobil. Urusan bakal ribet dan kami tak punya cukup alasan untuk bisa lolos.

Yang jelas, saya mewanti-wanti Doni, “besok-besok kalo ngereview mobil lagi, minta yang plat item!”. “beres,” sahutnya.