Alexandria (2)

di balkon hotel ini saya memandangi bibir pantai Alexandria yang, subhanallah, cantik sekali di waktu malam. lampu-lampu jalanan berbaur dengan lampu mobil kendaraan melengkung membentuk bulan sabit dan bermuara ke horizon. tak ada kata yang dapat mengambarkannya. tak heran Kang Abik bisa menuliskan dengan deskriptif bagaimana keindahan Alex dalam buku best sellernya itu. ditengah angin dingin yang menusuk tulang saya berkontemplasi. tentang masa lalu dan masa depan.


Tinggalkan komentar...

2 thoughts on “Alexandria (2)”

  1. “Gak boleh iri ya nak…”, “Iri hati itu dosa..”. Dari kecil, di pengajian, sekolah, n di rokum (baca: rumah)gw selalu denger petuah2 kayak gini. Tapi gw gak tahan lagi. Gw GW NGIRI BANGET SAMA LO BANGSAAAAT..!!!!! Dhanang..! Dhuancuk!!! Ajnrit! Keparat! Bajingan! kenapa bukan gw yg diajak k mesir? Huekhuekhuek…! Hiks! Glek! Hiks!
    Kenapa justru pendosa macam lo yang berangkat ke negeri Islam kayak gitu?! (hihihi)
    Untung aja lo masih terhirung senior gw di halaman hiburan harian tenama nasional. Jd, masih ada respeknya lah dikit. Gw cuma berdoa film ini sukses. Dan Kalo nanti ada KCB season 2. GIliran gw yang berangkat. He1000x…..
    Oke lah bro. nikmati perjalananmu yang gak mungkin kau dapat kecuali gratisan seperti ini. jgn lupa oleh2. cewek mesir yg gak pake jilbab yg lo temuin di tukang jus stroberi, boleh jg tuh!!! ;p

  2. justru pendosa kayak gue gini yang butuh pencerahan Rie, biar tambah beriman, wekeke. gue beli banyak tuh gantungan kunci gambar muke lo, onta. wekeke.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.