di depan Perpustakaan Alexandria

Meski sama-sama dua kota paling berpengaruh di Mesir, Alexandria dan Cairo jelas beda. Sebagai ibu kota, vibe Cairo lebih mirip Jakarta. Sebaliknya, letak Alexandria di tepi pantai membuatnya seperti di Bali : suasana berlibur.

Di kala malam, banyak remaja dan gadis-gadis berjilbab berjalanan di daerah downtown kota. Dari beberapa literatur yang saya baca, genrasi muda Mesir ini yang mulai tergerus dengan modernisasi dan gaya hidup ke barat-baratan. Mereka masih mengenakan jilbab, karena keislaman sudah mengakar kental di darah mereka. Tapi, banyak yang berdandan agak menor, termasuk mengenakan eye shadow warna hijau. Ehm.

Tapi, jujur saja, cewek Mesir emang cakep-cakep. Saya pernah “nemu” satu yang cantik banget saat sedang beli jus strawberry (yang enak banget). Dia tidak pakai jilbab, mungkin usianya baru awal 20an. Sayang nggak ngerti bahasanya. Hehe.

Cukup banyak toko fastfood, cinderamata, hotel, bahkan gedung Caesar Palace. Oh ya, hotel-hotel disini punya desain yang luar biasa cantik dan klasik. Meski, kadang di dalamnya menipu.

Kalau ingin jalan-jalan, bisa naik trem sekitar 25 piester atau 1/4 pound. Murah sekali. Bisa juga naik taksi atau kuda yang disewa perjam.

Menjelang malam, Alex makin cantik. Lampu-lampu gedung mengitari gugusan pantai yang melengkung nyambung ke horizon. Kebetulan, hotel saya, Marisami, tepat menghadap laut. Dari balkon, saya menikmati betul keindahan lampu kota yang bergemelapan, meski harus menahan dinginnya udara pantai yang menusuk kulit.

Saya, dan beberapa kru memustuskan berjalan-jalan malam. Naik trem, turun, makan di KFC, dan akhirnya bermuara ke sebuah café untuk sinai atau meminum teh, sambil mengobrol dan menghisap sisha. Asik sekali.

Sebenarnya, banyak sekali obyek2 wisata yang bersejarah disini, mulai mesjid, hingga gedung opera yang tak sempat disambangi. Tapi, sekadar melihat-lihat kotanya saja saya sudah sangat puas.

Dari Alexandria siang, kita makan makan malam di hotel Le Meridien (skarang Grand Hyatt yang lobinya langsung menghadap ke sungai nil). Di sampingnya, ada Hard Rock Cafe, Cairo. Kata umar lubis, artis sinetron itu, indonesia adalah satu dari dua negara yang memiliki live music/band di Hard Rock Cafe-nya. Bahkan, jauh mengalahkan popularitas resto di HRC sendiri. Nachos, Caesar Salad, dan segelas beer dingin. sedap.

Setelah itu, rombongan berjalan menyusuri pinggiran sungai Nil. Lalu menyewa kapal motor, dan membelah sungai selama sekitar 1 jam. dari situ, pemandangannya indah sekali. Lampu-lampu hotel Four Seasons, Shangri-La, Hyatt beriringan dengan pendaran lampu apartemen yang tersebar di kanan-kiri sungai.