Egyptian
di EMPC, studio terbesar di Mesir. Semua bangunan ini adalah duplikat aslinya.

Cairo sekarang sedang musim semi. Beberapa minggu lagi akan menjadi musim panas. Kata mahasiswa Indonesia yang berkuliah disini, ini adalah musim tepat buat pendatang seperti saya. Tak terlalu dingin, tak pula panas. Suam-suam. Meski, angin malamnya bisa bertiup kencang dan menusuk kulit. Fiuh.

Perjalanan ke Mesir ini benar-benar luar biasa. Begitu banyak yang bisa ditulis, begitu banyak angle yang menarik. Saya sampai-sampai bingung. Bahannya banyak sekali, tapi kesempatan untuk menulisnya mepet karena jadwal yang padat. Beberapa saya catat, lebih banyak yang hanya diingat-ingat.

Hari kedua, saya mulai akrab dengan rombongan. Kalau dilihat-lihat, kami tak ubahnya sebuah keluarga besar yang sedang berwisata. Hihihi. Chaerul Umam dan Imam Tantowi adalah dua kakek kami yang selalu saja berdiskusi.

Lalu ada Pak Eka, produser, yang laid back dan santai, mirip banget dengan om saya. Haha. Inoki, kameraman C&R, dari jawa, suka minum, dan logatnya mirip Raka Deny (hi Jo!). Produser Go Spot mbak Fitri, ceplas-ceplos, berbadan agak montok, dan mengingatkan Fitri di kantor kami yang sudah resign.

Mas E’te, kameramen Behind the Scene KCB yang gokil dan kocak. Pak Tommy dari Republika, sedikit nerdy, dan Mr Knows Everything. Trus Bu Lily dari manajemen SinemArt yang seperti ibunya rombongan. Dan, ah, begitu senangnya sampai bakal panjang sekali kalau diceritakan.

Hal paling menarik lainnya, adalah bagaimana mahasiswa Indonesia disini menjalani hidup. Ini bakal jadi tulisan panjang (buat pendidikan Minggu depan Yu, oke bro!). Karena banyak sekali tempat yang kami datangi, saya pun puas sekai melihat sudut-sudut kota Cairo. Bahkan, denyut kota ini mulai mengalir dalam darah saya. Halah! Well, anyway. I have a great time.

Iklan