Lagi-lagi saya jadi yang termuda dalam rombongan. Ini bukan kali pertama. Bahkan, dalam kebanyakan tugas tur media yang saya jalani, saya selalu jadi si bungsu.

Tapi overall, perjalanan lancar-lancar saja. Pukul 10 malam, Selasa lalu rombongan sekitar 20an orang transit di Singapura. Karena pesawat ke Cairo masih pukul 01.20 pagi, saya sempatkan jalan-jalan ke Terminal 3 Changi yang baru jadi.

Changi semakin luas, semakin canggih. Dan hebatnya, tidak mungkin kita nyasar. Peta petunjuk dengan keterangan tersebar hampir di tiap sudut. Kalau pun bingung, tinggal bertanya ke petugas yang dengan senang hati akan menjawab.

Jadi, bila ditotal Changi punya 3 terminal. Dan untuk berkeliling tersedia Skynet, semacam monorel yang mengantar kita ke dua bagian dari masing-masing terminal.

Penerbangan ke Cairo sekitar 9 jam cukup melelahkan. Apalagi, sebagian besar tim sudah beraktivitas dari pagi. Saya sempat boker dua kali di pesawat. Ho ho ho.

Waktu Indonesia-Mesir terpaut hampir 5 jam. Jadi saat saya mengetik ini bada Magrib di Cairo, di Jakarta sudah pukul 23.30 malam. Kami menginap di Wisma Nusantara, gedung pemberian ICMI yang kini dijadikan kantor PPMI serta dikelola oleh mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Mesir. plus, ada wifi gratis. how cool is that?

Agenda kemarin adalah mengunjungi Duta Besar Mesir, yang ternyata, anaknya adalah vokalis Maliq n D’Essentials. Hihi. Di saat 99 persen gedung Cairo berwarna coklat, gedung dubes warnanya putih sendiri. Sehingga dikenal dengan White House. Letaknya juga setrategis, di dekat sungai nil yang terkenal itu.

Seperti apa sungai nil? Lihat sendiri foto saya diatas. Ini pose yang paling ganteng, setelah berkunjung ke kantor Dubes. Hehehe.

sungai nil