Jika tak waspada, mudah sekali tersungkur di kota yang serbakonsumtif ini. Jerat dunia yang mengidentifikasi segala sesuatunya dengan merek, tampilan, kemasan, dan bungkus.

Konsumerisme sama menggodanya dengan seks, tak berbedanya candu. Jebak rayunya membutakan. Bujukannya duhai memabukkan. Tawaran keindahan, keagungan, ekslusifitas membuai mereka yang tak mawas. Karena itu, lantas teristilahkan shopaholic, para budak keinginan.

Untunglah, Tuhan menjentikkan kuasanya kepada saya, dan “snap”, oh betapa godaan itu telah menenggelamkan pikiran saya ke dalam relung kepuasan imajiner, pemandangan nanar palsu.

Untunglah, saya tersadar tepat pada waktunya.

“Basic consumption semua orang sama. Tapi yang membuat living cost kita berbeda adalah gaya hidup kita,” tegas Adhitya Mulya dalam blognya.

“Ketika batas kebutuhan dilampaui hingga memasuki tahap koleksi, maka angka berapapun tak akan pernah cukup,” lanjut Dewi “Dee” Lestari.

Disaat otak ini terjaga, saya menyadari betapa yang terlihat kecil untuk kita, bisa berarti besar bagi orang lain. Terima kasih Tuhan, atas kontrol pikiran ini.

Iklan