Banyak hal yang terjadi dengan saya dan para hommies. Tapi sebelum kesana, saya cerita dulu bagaimana kami menghabiskan weekend nongkrong di Amor Café, Kemang.

Well, to be honest, tempatnya sih nggak cozy-cozy amat. Malah sedikit rancu, apakah ini sebuah club, café, ataukah resto? Bagian dalamnya terdiri atas sofa-sofa dengan kelompok-kelompok AGJ (anak gaul jakarte) yang asyik meminum wine dan spirits.

Karena sumpek dengan asap rokok, saya, Bob, Ulum, Donny, dan Wawan yang baru datang dari Surabaya memutuskan ambil meja di luar untuk mendapat udara segar. Ya, oke, udara berpolutan, tapi setidaknya kami masih bisa bernafas.

Ngebir, ngobrol ngalor ngidul, liat-liat cewek (ya, hanya lihat, we don’t have guts untuk ngajak kenalan cewe-cewe so called high class ini, puas?), dan mendapat kesimpulan soal rutinitas para AGJ untuk menghabiskan malam minggu : ber-haha-hihi di café sambil main uno.

Uhm, well, jelas bukan gaya hidup kami yang lebih memilih indomie goreng jumbo plus telor dadar dan es teh manis @goceng di warung mie dekat kos daripada caramel machiatto @Rp35 ribu di Amor ini (15% tax? Jeez).

Oh ya, yang paling menghibur adalah Senin malam lalu, ketika Donny mendapatkan sebotol red-wine usai meliput launching Honda New Accord terbaru.

It’s a 2006 Cabernet Merlot. Wartawan dari Reuters sempat menawar untuk membelinya Rp300 ribu. Tapi Donny, meski sedang BU (butuh uang), tetap lebih memilih kebahagiaan teman-temannya menikmati minuman premium itu. You rock, dude!

Sebelum meminumnya, kami ke Permata Hijau dulu untuk mencari gelas wine. Gelas yang cocok ada di Ace Hardware. Tapi harga satuannya amit-amit, Rp70 ribu. Akhirnya, beli 2 gelas di Carrefour @20 ribuan. ”Beli 2 biar bisa toast,” kata Ulum. Dueh, gayanya.

wine1.jpg
donny dengan “minuman premium”-nya

Kesan pertama begitu botol itu dibuka lumayan memalukan. “Baunya kayak tape,” kata Boby. Susah emang orang udik dihadapkan sama minumannya “berkelas”. Wakaka.

Tapi, in the end, kami semua minum dengan nikmat. Rasanya getir, dan sepet. Hihihi. Kurang cocok dengan lidah orang Jawa yang gemar manis.

Wine termahal yang pernah saya coba, 1985 Chateau Cos d Estournel buatan Prancis (Rp2,4 juta), bahkan jauh lebih getir. Benar juga kata wine sommelier hotel Nikko yang menyebut orang Indonesia lebih suka fruity wine yang berasa lebih manis. Dan terus terang, saya prefer champagne daripada wine.

Sebotol berlima lumayan juga bikin gliyengan. “Harusnya 1 botol lagi nih baru enak,” kata Boby. Buset, wine disamain sama miras aja, buat mabok. Wakaka.

Seharusnya menikmati wine itu sambil berduaan dengan pacar, di tempat seperti Amor. Ini udah di kamar saya yang panas, penuh asap rokok, membaginya digilir pula kayak lagi minum pletok. Huahua. Ah sudahlah, kebersamaannya yang bikin nge-wine itu jadi nikmat. Haha.

wine2.jpg
Boby sedang chillin’ di kamar saya

Oh ya, Boby kini sudah pindah kos di daerah Pasar Minggu. Istrinya di terima kerja di Jakarta. Berdua lah mereka. Yang bikin iri, kosan baru Boby itu ada “tombol ajaib” a.k.a remote dan AC-nya.

Kamar Boby kini dihuni Donny, yang sebulan terakhir ini “ngenger” di kamar saya. Nah, saya juga bakal pindah ke kamar depan yang lebih gede, tapi nunggu dicat dan atapnya di tambal dulu (bocor bo!).

Terus, Donny akan pindah lagi ke kamar saya, sementara kamar Donny-yang dulunya kamar Boby-dihuni Gendut, seorang layouter di kantor yang tertarik ngekos di tempat kami karena tiap malam digelar kompetisi winning eleven sampe pagi. Hehe.

Well, that’s that. Ohya, minggu depan kakak saya bakal melahirkan anak keduanya, cowok lagi. Mohon doa restu agar persalinannya lancar ya.