Di kamar saya. Saya sedang asyik membaca versi PDF Macworld edisi Januari 2008, serta blog milik bapak ini di iBook, sementara Ulum tampak asyik darderdor memainkan Call of Duty 4.

Saya : lum kon Sholat lima waktu ga?
(lum, kamu sholat lima waktu nggak?
Ulum : Iyolah
Saya : mosok? Shubuh pisan? Jam piro, tangimu awan ngono?
(masa? Lo bangun siang gitu?)
Ulum : Yoi. Jam setengah 6 pak. Emesku mesti nelpon, nggugah.
(iya, setengah enam pagi. Tiap hari ibuku selalu nelpon, ngebangunin)
Saya : ket kapan kon sholat lima waktu?
(sejak kapan lo sholat waktu?)
Ulum : Hancik, ket biyen lah! Kon gak ono sesuatu yang besar dan berat gawe diuncalno nang ndasmu!
(anjrit, dari dulu lah. Lo nggak punya sesuatu yang besar yang bisa gw lemparin ke palelo!)
Saya : hehehe.
Ulum : Opoo kok takok takok? Kon sholat ga lho?
(kenapa tanya2, lo sholat nggak?)
Saya : hehehe. Nggak.

Ternyata, diantara teman-teman yang lain, cuma saya yang jarang sholat. Duh.

Kenapa ya, saya tahu sholat itu bisa memberi kedamaian di hati saya. Sehabis sholat, saya merasa hati ini begitu tentramnya. Tapi, kenapa mengambil air wudhu itu rasanya begitu malas.