Ini masih soal Wawan, teman saya dari Surabaya itu. Selama sepekan kemarin dia memang berada di Jakarta karena urusan kantor, sebelum akhirnya menghabiskan weekend di kosan saya.

Wawan, saya, dan Bobby itu teman dari SD sampai SMA. Rumah kami pun masih satu kawasan, Ketintang. Jadi kedekatannya sudah seperti saudara. Sudah mengenal sifat masing-masing seperti mengenal diri sendiri. Saya tahu semua teman mereka, kenal baik dengan keluarga serta pacar mereka, dan sebaliknya.

Malam itu, di saat saya, Wawan, dan Bobby sedang asyik menghisap pot, tiba-tiba saja Wawan berceloteh soal cerita inspiratif Tung Desem Waringin, motivational serta public speaker cukup terkenal itu, yang diundang untuk jadi pembicara pada karyawan kantornya.

”Seorang ilmuwan melakukan percobaan pada 2 ekor tikus,” Wawan mulai bercerita. “Tikus 1 diberi makan secara rutin. Jadi kerjanya cuma makan dan tidur saja. Sementara tikus 2 disuruh berpikir. Makanannya disembunyikan. Jadi kalau mau makan dia harus berusaha mencarinya,” ia melanjutkan.

“Setelah sebulan, ternyata sel otak tikus 2 jauh lebih banyak daripada tikus 1. Intinya, kalau otak ini dipake berpikir maka sel-selnya lebih banyak,” ia menjelaskan detil. Maklum, dalam pengaruh ganja, daya tangkap sedikit menurun.

“Oh, pantes ya, CEO sama pengusaha-pengusaha yang kaya itu pinter2. Pasti sel otaknya beda sama kita-kita. Lha mereka kan tiap hari mikir terus,” celetuk saya asal bicara. “Tapi kita ini juga beda. Udah gak pernah di pake mikir, banyak nyimeng pula, sel otaknya jadi minus,” sahut Bobby. Kita semua tertawa. Maklum, kandungan zat tetrahidrokanabinol di daun ganja menyebabkan euforia berlebihan. Sesuatu yang biasa bisa terlihat lucu.

Tapi, esoknya setelah sadar, saya jadi mikir, kalau ternyata “diskusi bodoh” itu ada benarnya juga. Saya jadi sadar betapa saya merasa termasuk “minim” menggunakan otak. Hehehe.

Kata Wahyu, teman saya, yang menonton serial Heroes (saya tidak), manusia hanya menggunakan sekian persen dari kapasitas otaknya. Nah, mereka yang bisa menggunakan otaknya secara maksimal bisa menjadi superhero. Well, mungkin itu berlebihan. Tapi intinya kurang lebih sama.

Tapi, dalam hidup, berpikir pun rasanya masih belum cukup. Saya jadi teringat tulisan Dahlan Iskan soal musuh manusia dalam meniti jalan sukses di hidupnya. Yang pertama, adalah mengatasi rasa takut. Mereka yang berhasil melewatinya mendapat rasa percaya diri. Kata Dahlan, orang yang percaya diri itu bisa mendapat sukses demi sukses.

Sementara musuh lanjutannya adalah kelebihan percaya diri, yang juga bisa mengakibatkan kegagalan. Mereka yang sukses mengatasinya, mendapatkan ini : kekuasaan, yang sekaligus jadi musuh tingkat tiga. Siapa yang tidak bisa mengendalikannya bakal jatuh.

Ini masih ada kaitannya ketika saya membaca blog politikus Yusril Ihza Mahendra, yang akhirnya memutuskan untuk membuat blog sendiri. Tulisan beliau di blog pribadinya itu begitu bagus dan mengalirnya, padahal Yusril tak pernah belajar jadi wartawan. Saya saja butuh bertahun-tahun untuk sekadar bisa menulis dengan baik.

Di posting awal blognya itu, Yusril juga sempat bercerita apa saja yang dia pernah lakukan, jabatan apa saja yang pernah beliau lakoni sebelum akhirnya bisa tiga kali menjabat sebagai menteri.

Saya cuma geleng-geleng melihat deretan jabatan yang bahkan tak pernah saya pikirkan sebelumnya. ”kok bisa ya?” celetuk saya dalam hati.

Tapi, mungkin kuncinya itu tadi. Baik Yusril ataupun Dahlan terus menerus berpikir, belajar, berdiskusi, dan berhasil melawan rasa takut. Karena itu, sel otak mereka jauh lebih banyak daripada saya, dan orang-orang kebanyakan.

Hmm, di usia yang sudah seperempat abad ini, rasanya belum terlambat kali ya untuk berusaha memperbanyak sel otak seperti beliau-beliau itu. Hehe.

Iklan