Kalau sudah punya keinginan, saya selalu merasa seperti tidak ada hari esok. Maunya keinginan itu harus diwujudkan saat itu juga. Seperti kemarin, ketika saya nekad memacu motor menembus kemacetan Sudirman setelah hujan, menuju Elektronik City di kawasan SCBD. Tujuannya : melihat-lihat LCD TV.

Sebelumnya saya sudah browse dan googling sana-sini, termasuk bertanya di Kaskus soal merek TV, harga, dan tipe mana saja yang oke. Salah seorang kaskuser sempat memberi tips berguna, “jangan langsung percaya dengan display yang jernih dan tajam. Biasanya mereka punya alat untuk menajamkan gambar yang disembunyikan di dalam lemari. Minta pegawainya untuk memutar DVD atau TV biasa,”.

Sebagai salah satu pusat perbelanjaan elektronik terbesar di Jakarta, Elektronik City memang “surga” buat saya, penggemar audio-visual. Semacam Hartono Elektronik di Surabaya, dengan skala yang jauh lebih besar. Asyiknya, hampir semua produk di diskon 5-15%, serta bisa dicicil 12x dengan bunga 0%. Sangat bersahabat di kantong.

Memang, dibanding 1-2 tahun lalu, harga LCD TV turun drastis. Sekarang, hanya dengan Rp6.5-7.5 juta kita bisa membawa pulang LCD TV 32 inchi yang superlega.

Dan seperti rekan kaskuser itu bilang, setiap stan memajang display produk dengan gambar supertajam, super jernih, yang membuat mata ini membelalak dan berucap “wow”.

Apa memang benar semanis itu? Ketika saya minta seorang pegawai untuk mengganti display yang sudah “dipertajam” tadi dengan DVD biasa, kualitas gambarnya menurun cukup jauh. Meski, kalau dilihat dari jarak tertentu masih lumayan tajam.

Tapi, betapa terkejutnya saya saat si pegawai menggantinya dengan channel TV lokal. Kualitasnya menurun mencapai 80%. Rasanya seperti melihat file 3gp video bokep diperbesar hingga memenuhi layar komputer. Gambarnya blur, goyang, dan distorsi.

“Apakah menonton TV berbayar juga seperti ini?” tanya saya sembari berharap semoga jawabannya tidak. Ternyata dia menggangguk, mengiyakan. “Sinyal TV lokal termasuk Astro dan Indovision masih di gelombang 50 hz dan sifatnya analog. Sementara standar TV LCD keluaran sekarang sudah 60hz hingga 100hz (digital). Jadi akhirnya hasilnya ngeblur seperti itu. TV ini kan hanya media, jadi ya tergantung sumbernya juga,” kata si pegawai.

Dia melanjutkan, di beberapa kawasan di Jakarta Selatan Indovision memang sudah merilis sinyal digital. Tapi, pelanggan dikenakan charge tambahan. Tapi kan saya tinggal di Barat. Dan saya juga pesimistis konversi sinyal analog ke digital ini bakal dilakukan 2-3 tahun kedepan.

Kalau dihitung lagi, porsi konsumsi TV saya belakangan ini adalah = 80% menonton TV berbayar : 20% menonton DVD.

Nah, betapa tidak asyiknya kalau saya harus menyiksa mata setiap hari menonton acara-acara favorit saya di Discovery Travel & Living atau Nat Geo dalam kondisi menonton file 3gp yang diperbesar. Yucckk!

Saya kembali bertanya-tanya, berarti, mereka yang memiliki LCD TV sekarang ini setiap harinya harus betah dengan kualitas gambar “3gp” saat mereka menonton TV lokal atau berbayar. Hahaha. That’s sux.

Memang sih, TV LCD juga memiliki keunggulan seperti stylish, tipis, dan lebih tajam saat dibuat memainkan game di PS3 atau Xbox 360. Begitu juga saat menonton DVD di Blueray Disc (keren sekali!). Tapi, tentu saja “pernak-pernik” tambahan itu butuh anggaran yang jauh lebih besar.

Intinya sih, saya menunda keinginan untuk punya LCD TV . Mungkin nanti, 2-3 tahun kedepan setelah siaran TV lokal di Indonesia sudah digital, dan TV CRT (tabung) sudah punah. Saat itu, harga LCD TV 32 inchi mungkin hanya sekitar 2 jutaan. Nah, saat itulah momen tepat untuk punya LCD TV. Betul tidak?