Fase

Waktu begitu cepatnya berjalan. Rasanya baru saja lulus kuliah, tiba-tiba saja usia ini sudah seperempat abad. Melihat mahasiswa yang baru kuliah saja malu, karena beda usia sudah begitu jauhnya.

Teman-teman saya pun sudah banyak yang memasuki fase hidup berikutnya : menikah. Kalaupun belum, setidaknya mereka sudah punya modalnya : seorang kekasih dan hubungan yang dirajut cukup lama.

Wawan, misalnya. Waktu SMP dan SMA di kenal playboy dan dekat dengan cewek-cewek cantik. Seharusnya dia yang bakal menikah terakhir. Tapi ternyata justru kebalikannya. Dia baru saja bertunangan, dan berencana menikah tahun depan. Pacarnya tidak cantik, tapi setia. ”Sudah malas nyari-nyari lagi. Yang penting dia bisa mengontrol saya,” katanya. Lama pacaran : > 5 tahun.

Kemudian ada Ulum, yang waktu lebaran kemarin orang tua pacarnya sudah minta kepastian. “Setidaknya Februari depan aku harus tunangan. Jadi tahun depan aku sudah harus cari kontrakan,” paparnya. Sekarang pun dia sibuk nanya-nanya soal cincin.

Kalau dilihat-lihat, cuma saya yang sepertinya jalan di tempat. Kadang saya berpikir, apakah mereka (teman-teman saya itu) yang terlalu cepat? Ataukah saya yang terlalu santai?

“Ya, menikah kan tidak langsung. Kan juga ada prosesnya, makanya harus segera disiapkan dari sekarang,” kata ibu saya yang katanya ingin segera menimang cucu dari saya. Wajar sih, kami cuma dua bersaudara. Kakak saya pun sekarang sedang hamil anak kedua.

“Makanya Nang, cepetan cari pacar dong!” kata teman saya lagi. Iya-iya, ini juga lagi berusaha. Mencari, bertemu, kenalan, menelpon. Kan semua inginnya dapat yang terbaik. Nah kalau belum nemu masa ya dipaksakan sih?


Tinggalkan komentar...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.