Walking Around in My Hometown

Risiko kerja di koran : hari libur pendek. Bayangkan, kalau ditotal saya cuma dapat jatah libur H-1 dan H. Sedangkan H+1 sudah masuk. Gila kan? Makanya, mereka yang ingin mudik berebut ambil cuti. Yang mengajukan duluan yang disetujui.

Saya? Untunglah, halaman yang saya pegang tidak time related. Jadi, masih ada waktu untuk membuat stok. Mengerjakannya jauh-jauh hari sebelum liburan, meski tidak mudah karena harus berkoordinasi dengan reporter dan layouter. Hasilnya, saya dan mereka dapat 3 hari libur tambahan. Hehehe.

Dan, menurut saya sih lima hari sudah cukup untuk mudik ke Malang, bersilaturahmi dengan saudara2 disana, lalu, kembali ke Surabaya untuk berkumpul dengan sahabat, tetangga, mantan, teman SMP, teman SMA, teman mantan Jawapos, serta berkeliling-kota Surabaya.

Yang terakhir itu, favorit saya. Ya, tak ada yang lebih menyenangkan selain putar-putar kota ditemani playlist dari CD kesayangan. Seperti mem-flashback hidup. Melihat kembali apa saja yang pernah kita lakukan. Yang pahit, yang manis. Sepanjang perjalanan pikiran ini berkelana liar. Membayangkan, mengenang, berimajinasi.

Nah, ini yang aneh. Meski menyenangkan berada di “rumah” sendiri, tapi mungkin saya tidak akan betah berlama-lama. Saya sudah terlanjur menempatkan ¾ hidup saya di Jakarta.

Meski, di satu sisi saya benci macetnya, benci hectic-nya, benci makanannya, benci kerjaan yang sudah menumpuk, benci rutinitasnya, dan sederet benci-benci lainnya. Tetap saja, saya ingin dan harus kembali ke Jakarta. So here I am now.


Tinggalkan komentar...



Categories: Daily Life

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: