Gaya Bercanda

Ada yang bilang, tawa adalah obat paling ampuh untuk menghilangkan stres. Bahkan, manfaat ketawa diklaim dapat menyembuhkan penyakit.

Dari ketawa, membawa kesimpulan soal gaya bercanda yang ternyata berbeda-beda. Di kantor saya, pekerjanya campuran. Ada Jawa, Medan, Sunda, Chinese, Betawi, dan lainnya. Kalau bercanda selalu sopan. Alasannya, takut menyinggung perasaan orang lain.

Kenapa? Karena gaya bercanda setiap daerah itu berbeda-beda. Apa yang terlihat lucu bagi orang Jawa, belum mesti lucu bagi orang Sunda atau Jakarta.

Di Surabaya, saya sendiri termasuk orang yang suka bercanda. Meski enggak lucu-lucu banget, tapi saya sering membuat orang tertawa. Dan, saya senang melakukannya.

Waktu pertama kali ke Jakarta, saya agak kaget soal komunikasi. Rata-rata teman-teman saya yang di Jakarta ternyata tidak paham gaya bercanda Suroboyan saya. Bahkan, saya merasa tidak selucu waktu di Surabaya. Lho, kok bisa? Kenapa?

Rata-rata orang Surabaya suka bercanda secara kasar. Karakter orang Surabaya memang keras, gampang panas dan emosian. Betapa tidak, mengakhiri kalimat saja hampir selalu dengan Cuk (kata makian).

Gaya bercanda Suroboyoan adalah saling menggojloki. Kalau bahasa Jakarta namanya dicengin, dikerjai. Misalnya, sekelompok orang melontorkan sesuatu pada orang tertentu, dan dianggap lucu. Tak jarang yang lain menambahi sehingga membuat orang yang dicengin tadi, malu, tersipu, atau tertawa.

1-4 kali sih memang lucu. Tapi di Surabaya, gojlokan itu berlangsung terus sampai membuat orang yang digojlok merah padam. Entah itu karena marah dan emosi, atau malu setengah mati.

Uniknya nih, setiap kita melawan atau balik melontarkan joke, hasilnya malah dua kali lebih parah dan menyakitkan. Karena itu, kalau tak pandai bersilat lidah, bermain kata, dan punya kesabran ekstra, mending diam dan pura2 ketawa, meski hati ini sakit.

Ya, candaan seperti ini memang tipis banget dengan bertengkar. Betengkar gara2 bercanda pun bisa terjadi. Mungkin karena Surabaya iklimnya panas, jadi orang-orangnya pun gampang panas dan emosi juga. Bedakan sama gaya bercanda orang Bandung yang agak kalem dan sopan.

Kalau di AS, gaya seperti ini disebut gaya New Yorker. Ingat saat Turtle, Johny Drama, dan Vince di serial Entourage bertanya kepada E soal tawaran apa yang bakal dia berikan ke Vince sebagai manajernya? Seharusnya Vince hanya bercanda, tapi jadinya terlihat serius.

Kesimpulannya sih, ternyata gaya bercanda berbeda-beda ini enggak Cuma terjadi di Indonesia saja. Tapi juga di luar negeri. Ehm, ga penting juga sih. hehehe


Tinggalkan komentar...



Categories: Daily Life

3 replies

  1. cok, raimu asu! asu raimu! 🙂 guyon nang… tapi raimu ancen taek kok.. eh, asu! taek-e asu! kekekek!

  2. nah ini nih salah satu contohnya. hehehe.

  3. @ aRizZz : sori cak, komentar sampeyan rodo kasar. Suroboyoan yo Suroboyoan, tapi tetep ono aturane je. suwun.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: