Setelah kenyang melahap tiga buah chicken wing, es tebu, dan ikan pari saus barbeque di Newton Street, keyakinan saya untuk jalan-jalan ke Geylang belum juga penuh.

Hingga, sebuah taksi berwarna merah mendadak menepi, dan mundur. Setelah penumpangnya keluar, saya buru-buru membuka pintu, masuk, mengenakan seatbelt.

“to Geylang Street, please”

“penumpang saya sebelumnya gila. Masa dia menyuruh saya melawan arah. Berbahaya! Kalaupun tidak ketahuan polisi, saya yang malu. Malu nomor taksi saya dilihat sopir taksi yang lain,” katanya cepat dengan nada emosional dalam bahasa Singlish.
Matanya memandang saya dari kaca mobil yang cuma bengong dan tersenyum-sok-memahami-perasaannya-dan-ikut-membenci-penumpang-barusan.

Pria itu kira-kira 40-an tahun. Chinese. Rambutnya hitam keputihan. Kalau bicara keras suaranya. Outspoken.

“maaf, mau kemana tadi? Geylang Street? Sebelah mananya?”

“antar saya ke tempat yang banyak gadisnya”

“oh, okelah. Nanti saya akan ajak putar-putar. Disana saya
pelankan taksi saya biar Anda bisa lihat-lihat. Normally, i didnt do this. Tapi, harus ada tipsnya. 1 dollar lah. Untuk kompensasi waktu saya yang terbuang,”

“no problem”

“saya kasih tau dulu. Disana ada macam-macam cewek. Yang Chinese, cantik-cantik. Tapi no service. They just spread their legs and hope you cum faster. They just want your money. No service!”

“kalau Singaporean, lebih suka yang Thailand. Mereka tidak cantik, tapi service-nya bagus”. Saya membiarkannya terus bicara menggebu-gebu, sambil sesekali menimpali, “oh ya?”, “wow”, “terus?”.

“Saya ingatkan juga, cewek yang berdiri dijalan itu ilegal. Tidak punya ijin. Kebanyakan Chinese. Kalau mau yang legal, cari di rumah-rumah atau hotel. Disana ada Thailand, Vietnamese, Indonesia, India. Aman. If you dont put the cup on, they dont wanna play. Kalau yang Chinese, they dont care-lah,”

“berapa sekali main?”

“tergantung lah. Kalau yang 25-30 tahun, sekitar SGD40-an. 25-20 tahun, SGD 60-80. Yang belasan, lebih mahal lagi. cewek Indonesia banyak sekali yang belasan,”

“Kalau mereka saya booking, terus dibawa ke hotel gimana?”

“what? Buat apa? Janganlah, dia bisa charge mahal sekali. Kalau disana, mereka semalam bisa dapat banyak duit dari gonta-ganti pelanggan. Kalau dibooking semalam, bisa nyampe SGD500”

“SGD500? Wow, mahal sekali!”

“Iyalah. Ngomong-ngomong, anda darimana?”

“Indonesia”

“what? Indonesia? Ngapain lah ke Geylang? Cewek Indonesia itu cantik-cantik. Mijatnya juga enak pula. Kok malah nyari cewek ke Singapore?”

“Saya cuma pengin lihat-lihat saja. Ini sudah kedua kalinya ke Singapore, tapi belum sempat juga ke Geylang. Aneh ya, saya cari dipeta, kok Geylang tidak ada ya? Saya bingung menemukan letaknya”

“hahaha. Iyalah. Geylang kan zona khusus yang tidak dipromosikan. Daerahnya luas sekali, terdiri dari lorong-lorong. Misalnya, Geylang 12, Geylang 14. Ada kelipatan genap, ada juga kelipatan ganjil. Angka genap itu ceweknya lebih bagus. Di mainstreetnya, Anda bisa ngopi atau makan. Ada banyak kafe. Santai lah”

“kalau mau lihat-lihat, masuk aja ke tempatnya. Kalau memang belum cocok, ya jangan diambil. Bolak-balik masuk juga nggak papa kok. Pilih-pilih aja yang sesuai selera. Tak usah ragu lah”

“tapi daerahnya aman tidak? Maksudnya saya jalan sendiri gitu?”

“aman lah. Singapore sangat aman. Apalagi Anda orang Indonesia. Asal jangan tunjuk-tunjukkin uang, atau taruh henpon di meja. Kalaupun misalnya ada polisi, nggak usah lari lah. Tenang aja. Polisi akan nangkap ceweknya, bukan anda. Aman”

“oke, turunkan saya disini saja. Terima kasih banyak”

“oke lah, selamat bersenang-senang”