Full Time Traveller

”Full time traveller, bukan lagi full time blogger,” canda Budi Putra kepada saya, dibandara Changi, disela-sela menunggu pesawat Garuda yang akan mengantar kami kembali ke Jakarta.

Candaan itu menyangkut tingginya mobilitas Budi belakangan ini. Mulai tur bersama blogger di beberapa kota besar Indonesia, menulis untuk Jakarta Post, serta yang paling banyak menyita waktunya, mengurusi jaringan blog Asiablogging.

Yang terakhir itu, yang membuat Budi acap kali diundang ke luar negeri. Singapura hampir tiap bulan. Kemudian Brussels, Jerman, bulan depan. Barcelona dan Las Vegas adalah kota yang dituju selanjutnya. Kedengarannya menyenangkan?

”Sekali lagi jangan meremehkan kekuatan blog dan blogger,” katanya lagi. Di Asiablogging, Budi menjadi CEO. Perusahaan itu baru tiga bulan di launching, tapi hitnya sudah lebih dari 500 ribu. Sangat menjanjikan ke depannya.

“Kenapa Asiablogging? Bukan Indoblogging, misalnya? Karena saya ingin ini serius. Asiablogging itu jaringan blog yang keempat dunia, pertama di Asia. Kita nggak mau kalah sama blogger AS ato Eropa. Nantinya saya ingin ada kontribusi lebih banyak dari blogger Korea, Malaysia, dan negara-negara lain. Bahkan, menggunakan bahasa Korea atau Melayu mungkin. Karena pada dasarnya blog itu sifatnya melokal”

Saking sibuknya, Budi sendiri bahkan tak terlalu sering ke kantor Asiablogging di kawasan Kebon Sirih Jakarta. ”Kalau ke kantor paling-paling cuma teken kontrak saja,” dia bercanda lagi. ”Bahkan office boy di kantor rikuh kalau saya datang. Nawarin kopi atau teh. Habis, dia merasa nggak ada kerjaan,” ujarnya tertawa.

Kepada saya, dia juga tak ragu untuk membeberkan rencana, visi, serta ide-idenya yang saya pikir sangat brilian. Soal bagaimana menjual content, meraih sponsor, dan lainnya. ”Yah, mungkin itu yang membuat mas Budi jadi CEO. CEO itu harus terus mikir,” kata saya tertawa. Dia juga tertawa.

”Saya lebih memilih melakukan sesuatu yang belum pernah dicoba sebelumnya, daripada melakukan sesuatu dimana orang sudah berhasil, dan banyak yang melakukannya,” kata Budi lagi. ”Yang belum pernah dicoba, belum tentu tidak bisa berhasil kan?,” dia menambahkan.

Tapi, lanjut Budi, tentunya semuanya harus sudah di pikirkan. Jangan cuma nekad saja. Budi mengaku sudah melirik blog sejak 2001. ”Waktu itu saya sudah mengira ini (blog) bakal jadi besar begitu masuk Indonesia. Karena di Amerika sana udah besar. Saya pun mulai jadi blogger serius. Nah, begitu blog mulai booming dan semua orang mulai belajar ngeblog, kita sudah jadi blogger profesional,” ungkapnya.

Wajar saja kalau Budi berulang kali diundang jadi panelis di berbagai acara. Langkahnya meninggalkan karirnya yang sudah matang di Tempo pun saya nilai tepat. Terlalu banyak ide di kepalanya yang harus segera diaplikasikan. Visinya jauh kedepan, idenya selangkah lebih maju. Dan, dia punya keberanian untuk melakukannya.

”Pada akhirnya, blog itu hanyalah sebuah media. Lima atau sepuluh tahun kedepan mungkin bisa berbeda. Tapi, yang tetap itu kontennya. Karena konten itulah yang dibaca,” ungkapnya. “Jadi penulis, wartawan, peneliti, itu sangat berpeluang dalam menghasilkan konten yang bagus,”

Mengobrol dengan orang seperti Budi memang menyenangkan. Memacu semangat dan membuka pikiran. Yah, semakin meyakinkan saya untuk meraih cita-cita saya, memiliki sebuah restoran sendiri, suatu saat nanti. Hehehe. Semoga saja.


Tinggalkan komentar...



Categories: DAILY BLOG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: