Stripclub

Oke, saya tidak akan cerita bagaimana saya menghabiskan hari minggu dengan menonton habis musim ketiga serial Entourage, karena itu akan sangat membosankan.

Yang menarik justru kejadian Sabtu malam kemarin. Awalnya, saya berencana bermalam mingguan di rumah saja. Well, tight money policy. Tapi, tiba-tiba saja Ronald, teman satu kos, memberikan tawaran yang tak mungkin saya tolak : mengunjungi strip club.

Sexy dancer dengan lingerie saya sering lihat, tapi striptease? Saya hanya pernah melihatnya di film, baby. Well, kita buktikan apakah Moamar Emka berkata jujur di bukunya.

Maka, berangkatlah kami berenam, saya, Ronald, Ulum, Bobby, Keceng, Trian, Bayu, dan Kampang ke tol Kebon Jeruk straight to kawasan Ancol. Disana, Ayong, teman kos lain, bersama dua orang temannya sudah menunggu.

”Ayo cepat, acaranya sudah mulai jam 12 teng,” kata Kampang, menirukan suara Ayong di telepon. Waktu menunjukkan pukul 23.20 WIB. Masih cukup waktu. Jam segini, tol Kebon Jeruk-Ancol sesepi tol Surabaya-Malang sebelum ada Lumpur Lapindo. ”Siap,” jawab Ronald dibalik kemudi sambil menginjak gas lebih dalam.

Kami selingi perjalanan itu dengan saling bercanda dan mengejek satu sama lain. Aslinya jantung ini berdebar-debar, rasanya ingin meledak. Beberapa mungkin sudah berimajinasi. Pertanyaannya cuma satu, apakah mereka (para gadis) itu benar-benar bugil?

***

Ayong langsung mengantar kami ke meja. Ada Iyus, dan ah, satu lagi saya lupa namanya, serta seorang gadis lumayan manis tampak asyik menuangkan minuman. Belakangan saya tahu kalau dia ternyata PR klab tersebut. Dua botol Black Label, satu diantaranya sudah hampir kosong. Wow, sudah mulai panas rupanya.

Stripclub ini terbagi dalam dua section. Begitu masuk, kita melihat bar disebelah kanan, serta tujuh meja bundar dikelilingi kursi-kursi tinggi didepannya. Tidak banyak yang bisa dilihat dan dilakukan disini. Lanjut.

Ada lorong kecil yang menghubungkan ruangan itu ke ruangan utama. Ini baru keren. Bayangkan ruangan berbentuk persegi panjang dibagi dua oleh garis yang memanjang. Nah, garis itu adalah panggung dengan lebar sekitar 1.5 meter yang digunakan para striptase untuk menari, lengkap dengan tiang-tiangnya. Ruangan ini cukup luas juga. Panjangnya mungkin sekitar 20-30 meter dari ujung ke ujung.

Pengunjung klab ini hampir 80 persen Chinese. Rata-rata datang beramai-ramai baik cowok ataupun cewek. Usianya sekitar 20-50 tahunan. Dari penampilan, tampang dan gaya mereka, terlihat kalau ini klab menengah keatas. Bukti lain, ditiap meja pasti ada botol Black Label, Jack Daniels, atau Chivas Regal. Tak cuma beli piceran, rata-rata buka botol.

Setelah beberapa menit menyesuaikan diri, Bobby langsung dig it. Padahal, dia biasanya paling rewel. Yang membuat Bobby senang saat dugem adalah : 1. bisa mabok dengan harga terjangkau. 2. musik yang enak. Dia tak terlalu peduli soal cewek, karena sangat setia dengan ceweknya. Sampai saat ini, peringkat teratas masih dua picer Pletok di Colors Pub Surabaya seharga @Rp200 ribu yang dijamin 100% membuat tepar.

Dia merasa tidak cocok dengan musik di Retro. Crowd di Bliss dan Loft disebutnya “terlalu ABG”. Bahkan, Centro, Embassy, atau Score pun tak membuatnya tertarik. Tunggu sampai dia tahu kalau X2, yang so called klab paling hip di Jakarta saat ini masih memainkan Survivor-nya Destinys Child dan lagu-lagu Bon Jovi setiap kamis malam. Dia pasti bersumpah tidak akan kesana lagi.

Saya sendiri mengakui, suasana, crowd, ruangan, vibe, bahkan musik tempat ini cukup oke. Jauh dari musik kawasan Kota yang kental dengan house, yang baru terasa enaknya kalau sudah menenggak satu butir ekstasi itu.

”Tempatnya asyik,” teriak Bobby di telinga saya setelah menghabiskan gelas minuman pertamanya. “Yoi,” jawab saya. Couldn’t agree more with you Bob. This gonna be a wild night.

***
Tiga orang dancer jadi menu pembuka malam itu. Mereka tampak seksi dengan lingerie warna merah. Ketiganya oriental, semuanya cantik. Tebakan saya, bukan dari Indonesia. Mereka mulai meliukkan tubuh, bergoyang seksi, menggerakkan kaki dan tangan. Hmm.. terlewati begitu saja.

10 menit kemudian, muncul lima dancer. Kali ini lokal punya. Dari wajahnya, kira-kira asal Jawa Barat. Hehehe. Mereka menggunakan baju yang lebih sedikit menutupi tubuh. Tak terlalu cantik sih, tapi goyangannya lumayan hot juga.

Asyiknya, panggung cuma setinggi paha. Dan meja kita tepat berada disamping panggung. Jadi, kita bisa melihat mereka menari dengan jarak yang sangat dekat. Dekat sekali. Sampai-sampai kita bisa menyentuh mereka hanya dengan menjulurkan tangan. Ya, sedekat itu.

Setelah cukup terhibur dengan penari-penari lokal ini, saya cukup terkejut dengan “menu” berikutnya. Bule. Ya, tiga orang bule mulai melakukan gerakan striptease di tiang. I tell you, baru kali ini saya melihat langsung seorang bule melakukan striptease di depan mata.

Pasti kalian bertanya, apa bedanya?

Beda banget. Meski bule-bule ini tidak cantik, tapi mereka menari secara “profesional”. Mulai gerakan seperti orang sedang bercinta, hingga melakukan gerakan-gerakan memutar di tiang yang sangat keren. Just like in the movies.

Tapi ini yang paling sick, mereka memanjat tiang itu, dan tiba tiba bergantung terbalik dengan kepala dibawah. Berat badan tubuh ditopang dan paha dan pergelangan kaki yang mengapit tiang. Inspite membuat turn on, saya justru turn off melihat para bule itu. Seperti melihat sirkus. Untunglah aksi mereka segera berakhir.

***
Malam semakin panas, padahal jam baru menunjukkan pukul 00.04 WIB. Jeez, di Surabaya dulu, saya baru berangkat dugem pukul 00.30 WIB untuk menghindari first drink charge (FDC). Maklum, prinsip kita dulu bisa senang-senang maksimum, dengan anggaran minimum. Hehe.

Suasana sudah semakin panas. Dua botol Black Label yang kosong digantikan dengan satu botol Black Label dan Tequila baru. Ayong bahkan memesan dua minuman Flamming. Saya akui, soal dugem, orang Chinese memang gila. Mereka tidak ragu menghabiskan banyak duit untuk senang-senang. Oh ya, saya belum bilang kalau Ayong itu chinese dan asli Medan?

“Cepetan ke bar, ada yang anal!” teriak Ayong ke kuping saya. Anal? WTF? Ini bukan gay club kan? Rasanya tidak ada yang mau melihat dua orang cowok bermain anggar. Tapi, rasa penasaran saya jauh lebih besar. Saya, Ulum, Bobby dan Ronald bergegas menuju bar.

Untunglah, bukan seperti yang saya bayangkan. Tepat diatas bar, ada dua cewek telanjang sedang asyik menari dan melakukan aksi “lesbian thing”. Tapi, kita hanya bisa melihat bayangan mereka dari balik layar putih. Well, seperti melihat wayang lah.

Ini yang gila, setelah puas menari dan saling meraba, salah seorang cewek menghilang. Ia kemudian kembali menggunakan “celana dalam dildo”. Yang sering menonton bokep pasti paham. Gampangnya, si cewek seolah-olah jadi punya “Mr P”.

Ini yang gila, si cewek tadi mulai memasukkan “Mr Dildo” ke “Mr V” ke cewek satunya dalam posisi doggy style. Omg. Asli, saya cukup shock. Ini too much buat saya, meski saya terus menontonnya sampai habis. Tidak lama sih, melihat para cewek itu saling “menggagahi”. Paling sekitar 1-2 menitan. Setelah itu layar tiba-tiba saja mati.

Saat kembali ke meja, saya semakin penasaran, wow, apalagi “menu” selanjutnya? (to be continued)

***


Tinggalkan komentar...

4 thoughts on “Stripclub”

  1. Anjrit!! kalah nih Jakarta Undercover, kalah jauhhhh hahaha

    Gila gila gila! postingan lo kali ini gila! (tapi gue seneng bacanya hahahaha)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.