Tidur

Beberapa teman chatting saya kebingungan, saat saya bilang benci tidur. Kenapa sih? Bukannya tidur adalah hal yang paling menyenangkan sedunia? Buat saya tidak. Alasannya simpel saja, saya sulit tidur.

Tapi, saya juga tidak serta merta melabeli diri sebagai penderita insomnia. Satu-satunya penderita insomnia akut yang saya kenal adalah Ran, teman saya di Surabaya dulu. Dia baru bisa tidur sekitar setengah lima pagi, dan bangun jam tujuh pagi untuk kuliah. Kebiasaan itu dia jalani tiap hari.

Sampai-sampai dia pernah cerita, kebingungan untuk mengisi waktu di pagi hari. Disaat orang lain sedang tidur, tak banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Katanya, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca dan mendengarkan walkman supaya tidak berisik. Nah, itu baru namanya insomnia.

Saya sendiri tidak parah. Saya hanya susah tidur dibawah jam setengah dua pagi. Bahkan, saat kondisi tubuh sedang capek sekalipun, saya tetap susah memejamkan mata. Bagi saya, tidur bukannya kenikmatan, tapi perjuangan. Saya harus berjuang tiap malam untuk bisa tidur.

Uniknya, saya bisa tertidur begitu saja, dimanapun. Misalnya saat menonton TV. Atau di kursi kantor. Tapi durasinya tak lama. Sekitar 5-10 menit, atau 30 menit.

Tapi, tidur yang paling enak menurut saya justru pagi hari. Kok? Begini, setiap pagi saya selalu menyetel alarm ponsel. Jeda sekitar 20 menitan, selama beberapa kali sebelum waktu saya harus benar-benar bangun.

Misalnya, saya ada janji jam 10 pagi, maka alarm saya bangunkan berturut-turut pukul 8.20, 8.40, 9.10, 9.30, begitu seterusnya. Setiap jeda 20 menit itu, saya tidur-tiduran sebentar. Dan, rasanya, itu momen tidur yang paling nikmat.


Tinggalkan komentar...



Categories: Daily Life

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: