Lengkap

Tak terasa ya, saya sudah menginjakkan kaki ke Jakarta sejak Desember 2004. Berarti.. ah, tunggu saya ralat. Kata berarti diganti dengan ternyata. Ya, ternyata baru dua tahunan saya berada di Jakarta. Tapi rasanya lama sekali. Hidup saya jauh berubah dari saat pertama saya menginjakkan kaki di ibukota.

Dan kalau mau direfleksikan, perjalanan saya sejauh ini super duper lancar. Sedikit berat dan terseok di awal sih, tapi tinggal melenggang setelahnya. Kadang saya sendiri juga heran, mengapa Tuhan begitu menyayangi saya. Padahal, selain banyak melakukan dosa, hambanya yang satu ini kurang bersyukur dan berdoa. :-”

Tapi kalau saya boleh berteori. Effort yang saya lakukan mungkin cuma 30 persen. 70 persen sisanya semata adalah perwujudan doa orang tua yang setiap hari mendoakan saya.

Orang tua saya memang tak membesarkan saya dengan segala kemewahan. Sempat sebal sih, saat SMA melihat bagaimana teman yang bermobil ceper dan bervelg racing dapat menarik cewek cantik. Meski toh, saya akhirnya bisa juga berpacaran dengan cewek (yang menurut saya cantik), tanpa mobil ceper dan velg racing.

Tapi, sekarang saya baru sadar, kalau orang tua saya memberi sesuatu yang jauh lebih besar dari materi : kebahagiaan. Ya, kami adalah keluarga kecil yang bahagia. Kakak saya sudah menikah, tinggal di rumah sendiri bersama suaminya di Jakarta, memiliki seorang anak yang sangat lucu. Karena itu kedua orang tua saya sering tinggal disini selama beberapa lama untuk menengok cucu kesayangannya.

Ya, meski ada sedikit financial problems, up and downs, tapi masih bisa diatasi. Mengutip kata ayah saya, istilahnya keinginan mereka saat ini hanyalah menghabiskan sisa umur yang tersisa untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Oh ya, mereka juga ingin melihat saya segera menikah dan segera menimang cucu nomer dua. He-he-he. Iya, saya juga sudah berusaha untuk memulai hubungan yang serius, kok. Meski entah, sama siapa? Ha-ha.

Sekarang saya merasa lengkap. Lengkap sebagai keluarga, sebagai manusia. Dan kalau sudah begini, selain mengucap Alhamdulillah, saya harus sering-sering berteriak kepada diri saya, “ayo sholat!”. He-he. Sudahkah Anda sholat?


Tinggalkan komentar...



Categories: review

1 reply

  1. meski dengan siapa? Pertanyaan baik. Saya bahkan sempat berpikir jika saya yang mengatakan lebih dulu. Jika mencari yang seiman, mengapa sulit juga lidah ini berkata?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: