Saves the Day

Untuk mengusir sedikit rasa bete karena ajakan untuk ngopi ditolak oleh gebetan, saya memutuskan untuk menonton Festival Sinema Prancis bersama sepupu, Minggu malam kemarin.

Ya, entah dia (gebetan) memang sedang tidak ingin dekat dengan lelaki, atau mungkin illfeel setelah melihat wujud saya secara face 2 face, yang jelas dia menjawab, “jangan sekarang deh. Nanti lah, kalau lagi mood. Tapi jangan ditunggu juga,”. Hmm, rasanya itu pertanda buruk ya?

Anyways. Inginnya sih menonton Paris Je T’Aime di Blitzmegaplex sebagai penutup Festival. Tapi selain waktu yang mepet, juga terbatas undangan. Saya mungkin bisa saja masuk, tapi sepupu saya?

Akhirnya, pilihan pun jatuh ke Qui M’Aime Me Suive (Those Who Like Me Follow Me) di Jakarta XXI. Alasan saya cuma satu, label comedie dramatique (drama komedi). Saya butuh tertawa.
Filmnya sendiri bercerita tentang pria bernama Maxime. Dia muda, tampan, pintar, dan menjadi dokter kepala di sebuah rumah sakit terkenal. Suatu hari, ia memutuskan untuk meninggalkan karirnya dan memilih mengikuti nalurinya untuk membentuk sebuah grup band. Perubahan serbamendadak itu mendapat perlawanan dari lingkungan sekitarnya.

Well, filmnya sih bagus, inspiratif, dan sesuai suasana hati yang saat itu sedang galau (asyah!). Meski, selera komedi orang Prancis mungkin agak absurd ya. Label dark/tragic comedy rasanya lebih tepat untuk menggambarkan film itu.

Tapi, yang unik justru saat saya menukar tiket. Mbak-mbak penjaga tiket (yang cukup cute) menanyakan nama dan media saya. Setelah saya jawab, dia terdiam sejenak, memandang saya, dan inilah yang terjadi :

Si mbak : hey, I know you…
Saya : (bingung) huh..??
Si mbak : yeah. I’ve read about your article.
Saya : (senang bercampur GR) really!??!??. Which one??
Si mbak : I like how you write about movies. Especially when you criticize indonesia’s horror movie. Haha (laughs).
Saya : oh yeah?! Gee, thanks. You know what, when I write about Empty Chair, Chand Pharwez him self called me, and complained about my bad review. Haha.
(Saya dan dia) : hahaha…
Si mbak : Yes, when I glance at your article, I like to imagining how’s the author looks like. Turns out, you’re not as old as I imagine. Haha..
Saya : haha…

Well. She’s really saves my day. Saya pikir tulisan saya tak ada yang membaca. He-he-he. Habis, setiap Minggu saya selalu saja minder melihat review Susi Ivvaty di Kompas yang cermat dan rapi. Saya malah ngefans dengan tulisan dia.

Tapi, senang sekali rasanya karya saya diapresiasi. Dulu, jantung saya sampai berdegup kencang saat Noorca Massardi mengatakan bahwa dia sering membaca tulisan saya, dan bilang menyukainya. Ah.

NB : About the girl, too bad, I didn’t ask her phone number. Should I?


Tinggalkan komentar...

5 thoughts on “Saves the Day”

  1. Membuat lo semakin GR (hehehehehe), I like ur review also.

    Ajarin dong bikin review yang ‘canggih-canggih’ gitu…..

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.