They’re Exist!

dsc00914.jpg

Hohoho, tenang dulu. Saya tidak sedang melihat alien dan mengklaim kalau mereka benar-benar ada. Biarlah Mulder dan Scully yang mencari jawabannya.

Pekan kemarin saya diundang oleh Ritz Carlton Hotels untuk menghadiri fine dining, dalam rangka preview program World Gourmet Summit (WGS) 2007 di Singapore mulai 9 sampai 28 April nanti.

Saya jelaskan dulu satu-satu. Saya sudah mencicipi beragam restoran mahal di hotel, atau direstorannya sendiri. And let me told you, Ritz Carlton Hotels are top notch. One of the best.

Terus WGS? Ini sebenarnya super tidak penting. Jadi ceritanya orang-orang superkaya di Indonesia datang ke Singapore hanya untuk makan, ya, makan di restoran-restoran dengan chef-chef terbaik. Seperti wisata kuliner Bondan Winarno itu. Bedanya, mereka mencicipi hidangan, serta minum wine terbaik dengan cara hopping dari satu hotel atau resto, kelainnya.

Saya sendiri sudah beberapa kali menghadiri fine dining. Tapi tak pernah seformal malam itu. Semua serba berkelas, dari yang datang, makanannya, tempatnya, hingga chef-nya. Oya, chef-nya ini guest chef orang Italia dan Chinese.

Oke, saya jelaskan lagi. Chef itu ada stratanya. Ada chef biasa, master chef, dan tertinggi (uh, saya lupa). Yang jelas, peraih gelar itu dianggap mampu merubah tren kulinari di dunia. Konon jumlahnya tidak banyak. Istilahnya, dia adalah Gurubesar di sebuah Universitas. Kalau seorang chef (biasa) di hotel bintang lima di Indonesia bayarannya mencapai 25 juta, perkirakan sendiri gaji master chef.

Sardono W Kusumo, rektor IKJ, yang saya ajak ngobrol mengatakan kalau kulinari itu sudah menjadi art. Artinya chef, itu tak ada bedanya dengan penari, penulis, pelukis, bahkan musikus. Mereka menghasilkan suatu karya yang dapat merubah perasaan seseorang. Itu seni, menurut Sardono. Saya sih setuju saja.

Sebut mereka aneh, tapi para socialite yang datang ini membandingkan makanan dengan mobil Ferari dan chef sebagai seorang selebritis. Hihihi. Saya sampai bergumam dalam hati, kok ada saja orang-orang seperti ini ya.

Awalnya saya agak bingung melihat banyaknya garpu dan sendok, serta sekitar 5-6 gelas di meja saya. Ah, ternyata caranya cukup mudah kok. Soal utensils, menggunakannya dari luar ke dalam. Nah, gelas-gelas itu untuk wine yang setiap pergantian menu juga ikut diganti.

Dari situ, saya juga tau kalau semakin lama tahun pembuatan wine, rasanya semakin bitter (asam). Nah, seorang wine expert bisa membedakan rasa dari tahunnya, meski tenggangnya tak jauh beda (ex : perbedaan rasa signifikan dari 1982 dan 1984).

Untungnya, dari film Sideways, saya masih ingat bagaimana Miles, tokoh di film itu “merasakan” wine. Kita goyang-goyangkan gelasnya dulu, rasakan aromanya melalui hidung, baru cicipi dan biarkan taste-nya memenuhi mulut. Hasilnya? Ya, tetap saja, saya lebih prefer beer. Hihihi.

No really, saya memang jauh dari “in to the wine”, ketika Miles bisa mendeskripsikan rasa wine sebagai “briliant and thrilling”.

Meski demikian, saya sangat setuju dengan tokoh lainnya, Maya, yang menyebut alasannya mencintai wine, “I like how wine continues to evolve, like if I open a botle of wine today, it would taste different than if I open it on any other day. Because a botle of wine is actually a life”. Yeah saya suka kata-kata terakhirnya. Eh, tapi kok jadi ngomongin wine dan film sih?


Tinggalkan komentar...



Categories: DAILY BLOG

2 replies

  1. sama seperti haute couture yang menganggap pakaian sebagai seni, bukan penutup tubuh, fine dining juga gitu. makanan dianggap sebagai seni, bukan sekadar buat ngenyangin perut. yah, anggep aja kreativitas berlebih dari orang2 yg kebanyakan duit, hehe…

  2. wah, jadi ngiri ga ikutan fine dining. padahal, saya tukang makan lo. 😉

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: