Pemimpin yang Baik

Saya benci bos saya dulu. Saking bencinya, coba ikat dia ke tiang dan beri saya sehelai bulu, saya tega menggelitiki dia sampai mampus.

Kebencian saya lebih disebabkan karena dia membuat pekerjaan yang sangat saya cintai ini terasa seperti siksaan. Lebih sakit dari cubitan, lebih lama perihnya dibanding jarum suntik.

Dia tak hanya seorang yang sangat perfeksionis terhadap hasil kerja. Tapi juga megalomaniac minim empati yang tak bisa menghargai orang lain. Sebagai orang yang punya otoritas penuh di kantor, dia tak butuh alasan spesifik untuk memecat seseorang.

Sialnya, dia sendiri yang langsung mengedit tulisan saya. Hasilnya? Tulisan saya memang berkali-kali lipat jadi lebih bagus. Tapi juga berarti mimpi buruk.

Berita dari konfrensi pers, tak dapat nilai plus. Malah, kalau nulisnya jelek berbuah umpatan. Saya harus dapat sesuatu yang wartawan lain tidak punya. Ketinggalan isu? Sama saja berjalan menuruni lembah dengan mata tertutup : gila.

Pernah dalam seminggu setiap pukul 9 pagi dia sudah menelpon dan bertanya ada berita apa hari ini? Setiap nomernya muncul di layar ponsel, jantung ini berdegup kencang sekali. Mengutip kata seorang teman, “rasanya seperti kita baru saja memperkosa seorang gadis, dan itu polisi yang sedang menelpon”. Ini bukan bercanda.

Terus terang, saya stress. Energi saya terkuras habis. Saya berada pada posisi dimana otak ini lag, stuck, dan seolah enggan diajak berpikir. Seperti pompa air macet.

Beberapa kali saya berada dalam kondisi seperti ini : saya mengeluarkan 90% energi untuk menulis sebaik mungkin. setelah mengedit, ternyata dia marah besar. Mulai dari lead yang jelek, sampai pemilihan angle tidak bagus. Akibatnya, saya disuruh menulis ulang. Padahal, waktu deadline kurang dari setengah jam.

Yang terjadi, saya cuma duduk, diam tepekur sembari memandangi lembaran microsoft word yang kosong di komputer. Saat itu, menulis rasanya seperti harus mengikuti tantangan Fear Factor. Capek. Lelah. Dan sakit.

Sering kali saya mutung. Sudah ah. Sampai sini saja. Iv’e had it. Enough is enough. Tapi, karena tak ada pilihan lain, saya tetap bertahan.

Cara dia bekerja mau tidak mau terus memacu dan melecuti diri saya. Prinsipnya, “dapat-nggak dapat, pokoknya harus dapat!”. Beberapa kali tubuh dan otak ini menolak, berkata “tidak mungkin” dan “tidak mau”. Tapi, didorong rasa takut kena marah, segala cara pun saya tempuh.

Dan, ketika saya bisa melalui “ketidakmungkinan” tadi, jujur, hati saya bersorak gembira. “ya ampun, ternyata saya bisa juga ya,” begitu pekik saya dalam hati.

Dari situ saya menyadari ada sisi positif yang saya dapat dari dia. Teriakannya, kata-kata kotornya, memacu saya untuk terus berpikir dan belajar.

Sebagai seorang pemimpin, dia memberi contoh kepada saya, bawahannya. Dia sudah dikantor saat saya masih asyik bergulat dengan mimpi, dia belum pulang dari kantor saat saya sedang asyik main PS di kamar.

Bagi saya, setiap kata darinya bagai titah yang siap saya, seorang prajurit, laksanakan sampai titik tenaga penghabisan. Saya percaya 100 persen pada pemimpin saya itu. Saya kagumi idenya, saya idolakan kecerdasannya.

Konsep-konsepnya selangkah lebih maju. Dan diia tak berhenti belajar, seakan ada goal yang ingin dia raih. Waktu itu, saya siap membantunya mencapai goal itu.

Setiap hari, saya membuka halaman koran dengan perasaan deg-degan. Bangga, kalau tulisan saya tak banyak diedit.

Terlepas dari segala kekurangannya, bagi saya, dia lebih dari seorang pemimpin. Tapi menjadi guru yang inspiratif.

Sekarang ini, saya bekerja di lingkungan orang-orang yang mungkin “baru” di dunia pemimpin ini. Tapi kalau boleh saya sebut, para newbie ini agaknya terlalu mudah berpuas diri. Saya merasa mereka seperti tidak memiliki impian yang ingin dicapai.

Jangankan berlaku inspiratif dan memberi contoh, dalam banyak kasus, banyak anak-anak buahnya justru jauh memiliki semangat dan etos kerja yang seharusnya para pemimpin muda ini contoh.


Tinggalkan komentar...

12 thoughts on “Pemimpin yang Baik”

  1. Hey, dan’s .. keinginan menjadi dewasa akhirnya tersirat dari segala kata2 yang kamu susun dalam blogmu ini. Kamu mampu menghadirkan gambaran nilai positif dari sederet umpatan yang dikeluarkan seorang pemimpin yang sempat hadir sebagai nitemare setiap kali namanya terdisplay di LCD handphonemu. Lantas ketakutan berbuah menjadi kegembiraan ketika segalanya terlewati. Nilai positif terbangun saat kita merefleksikan diri bahwa dia adalah sosok yang memberi semangat pada dirimu untuk melangkah maju dan terus berpikir menjadi yang terbaik di antara orang-orang terbaik. Ia mampu melihat potensi diri kamu yang harus digali dan tak boleh berpuas diri. Sebaiknya, apa yang ada di depan mata sekarang menjadi refleksi kita mengapa hal yang dulu pantas dihindari menjadi sebuah kerinduan pemacu semangat dirimu, itulah pengalaman, ia baik menjadi guru dan pantas untuk diingat demi kemajuan diri kita. (*)

  2. Setidaknya Anda sudah berusaha yang baik. Tapi, sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik. Dan kita perlu seseorang sebagai tolak ukur kita dalam arti pemimpin yang menjadikan kehidupan kita lebih baik. Karena kepuaasaan itu ada bila kita mampu bekerja sama dengan pemimpin menjalankan semua tugas dengan baik, tanpa perlu merasa sakit hati karena tugas kita masih kurang semurna. Tapi, kita bisa buktikan bahwa kita bisa menciptakan yang terbaik dari sempurna. Salam Kenaal….

  3. pemimpin itu bukan hanya menjadi pajangan di depan publik, tapi dia harus bisa menjadi guru, teman, orang tua dan sumber inspirasi dari orang di bawahnya. kalau tidak bisa seperti itu lebih baik nggak usah jadi pemimpinlah..percuma..bisa-bisa orang jatuh di lobang……

  4. hehehe, ya, setiap orang memimpin dengan caranya sendiri. meski terkadang bisa menyakitkan. tapi, terkadang pula, rasa sakit itu secara tidak langsung memacu tubuh untuk mem-push dirinya ke limit yang mungkin kita sendiri tidak sadari. masing-masing punya plus dan minus. thx udah mampir

  5. hahahahaha baca tulisan ini kayak dejavu..

    yang pasti kalo aku bisa nulis dan nulis soal bos aku, pasti isinya hampir kayak gini (oops bukan plagiat kok..)

    intinya se’tema’ lah..

    nice blog to read

  6. suif sj walau negatif nya 90u sering sy alami jadikan itu pelajaran ambil yg positdah tak jaman lg kerja dibawah kekangan insiratif hilang pemimpin spt itu ambil positif sj anak buah tenang bekerja tp beri contoh yg baik tidak perlu menggurui bila bawahan terlalu bodo bimbing scr nehnis bila pintar beri garis besar berseskan

  7. Trnyta pemimpin tipe yg seperti ini trkdg bs membrikan qt motivasi dblik stiap tekanan2 yg ia brikan..Tpi akn lbh bk lg jika ad pmimpin yg bs membimbg dg membgn hub keklrgaan dg bwhanya shg para bwhan tidk hormt krn tkt tpi krn emg pmpin mrk patut di hormti krn kbjaksanaany..Tx u/hkmah dr crta anda

  8. ya, inginnya sih mendapat pimpinan seperti itu mbak. tapi yang namanya orang kerja, tergantung nasib 😀 kita ngga bisa milih pemimpin sesuai yang kita inginkan. hehehe. thanks udah komen.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.