pahit

Post ini memang agak ironis disaat euforia ultah dan hari Valentine belum juga usai. Iya, saya baru kehilangan motor (tadi pagi). Dan ini bukan sekali. Tapi yang kedua. Di tempat yang sama pula. Kosan saya. Mau tau rasanya? Seperti menjilat puyer, pahit.
Apa mau dikata, saya memang ceroboh. Motor supra x 125 merah itu memang saya kunci stang, tapi tak digembok rantai. Saya memang ceroboh (eh, sudah disebut ya). Asumsi saya sih selain malas : 1. motor itu diletakkan dua meter dari kamar saya. 2. anak-anak sudah mulai disiplin dan menggembok pintu pagar setelah keluar.
Tapi ya namanya musibah. Kecerobohan ini termasuk musibah nggak sih?
Sekali lagi saya merasakan posisi dimana seseorang mengatakan kepadamu, “lho motor kamu mana kok nggak ada? Ilang ya?”.
Sumpah, you don’t want to go there. Rasanya shock, panik, perih, bingung. Saya duduk, menutup muka, fokus, menenangkan diri (untuk mencegah teriak-teriak dan mengucapkan kata-kata pisuhan).
Saya kembali membayangkan fase-fase panjang-rumit-membosankan-yang nanti bakal dijalani : menelpon papa, ke kantor polisi, ke pihak asuransi (kalau diganti), dst…dst…
Ada beberapa pihak yang memang dicurigai. Sementara itu, saya juga harus memikirkan bagaiman pihak asuransi harus mengkover (lagi) motor saya. Dan tebak apa, formulir asuransinya entah saya taruh dimana. Omg.
Disaat saya (kembali) mengiyakan dan menjawab pertanyaan teman-teman kantor seperti “hah, ilang lagi?” “kok bisa?” “nggak dikunci?” “ya ampun!”, saya berbincang dengan Pak Yan Wahyudi, wartawan film senior itu.
Dia cerita kalau waktu banjir kemarin air dirumahnya mencapai dada orang dewasa. Dua lemari arsip, dokumennya tentang film hancur. Kulkas, TV, kasurnya rusak. Tapi, ia masih bisa tersenyum dan bercanda dengan saya.
Saat itulah saya sadar, ah saya belum pantas mengeluh. Ini sekaligus menjawab pertanyaan “nang motormu ilang kok tenang-tenang aja?”


Tinggalkan komentar...

2 thoughts on “pahit”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.