Pulang

Kalau dihitung-hitung, lebih dari setahun saya tak pulang ke Surabaya. Kemarin liburan hari raya, hanya numpang lewat dari Juanda, terus lanjut berkumpul di Malang. Dari Malang bersama keluarga liburan ke Bali, setelah itu nyampe di Jakarta lagi.

Surabaya panas, tapi sangat ngangenin. Rasanya masih 3/4 hidup saya masih berada disana. Saat meninggalkan Surabaya pun, semuanya dilakukan serba rush. Dari menjalani KKN, menyusun skripsi, sidang, sampai sekarang ini. Bahkan seingat saya, rasanya waktu itu saya tidak ada kesempatan untuk berpikir 2 kali.

Setiap kali mengunjungi Surabaya, waktunya tak lama. Tak sempat kemana-mana. Lebih banyak menghabiskan waktu dirumah saja.

Beberapa hari ini serpihan memori tentang Surabaya terus berulang di otak. Saat kuliah, saat SMA, saat bekerja.

Saya rindu rumah dan kamar saya. Ya tentunya, orang tua saya juga dong. Satu paket itu.
Saya rindu makanan Surabaya yang superenak. Ya pecel, ya rawon, ya sego sambel Wonokromo. Arrgghh!
Saya rindu jalanan Surabaya. Saya rindu Ketintang, sore-sore naik motor keliling Unesa dan Masjid Agung Menanggal.
Saya rindu memacu mobil di kawasan Dharmawangsa sambil mendengarkan playlist Sade dan Sarah Mclahan. Sangat trancy.
Saya rindu berkumpul bersama teman-teman, membeli pletok di Colors, dan pulang dalam kondisi setengah sadar. Kemudian makan rawon di dekat Cangkir (kalau tidak jackpot lho ya!).
Saya rindu perasaan senang bercampur nyaman mengajak cewek saya (dulu) makan malam romantis di kawasan Darmo.
Saya rindu berkumpul dengan teman-teman lama, menanyakan kabar mereka.

Saya ingin melihat mall Royal yang baru. Kata mama, banyak tempat makan enak disana.
Surabaya sudah banyak berubah, dan saya ingin ikut menikmati perubahan itu.

Oke, rasanya saya benar-benar butuh pulang kampung.


Tinggalkan komentar...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.