Mencari Pete

dsc00784.JPG
Dalam Harold & Kumar go to the White Castle, Harold dan Kumar (ya, siapa lagi?) pergi mencari gerai burger White Castle setelah menonton iklannya di televisi. Plus, mereka baru menghisap ganja (yang efek sampingnya adalah : lapar). Namun, perjalanan mencari White Castle berubah menjadi petualangan yang luar biasa.

Saya dan Trian, tema satu kos, semalam juga mengalami hal serupa. Bedanya, kami tak mencari burger, tapi pete (ya, pe;te, seperti kacang panjang dengan ukuran lebih besar. Doh?). Kami sama-sama nyidam pete, yang kalau dikombinasikan dengan pecel lele/ayam dan kecam manis rasanya konon jauh lebih sedap dari Big Mac.

Saking inginnya, grimis pun diterabas dengan jas hujan. Tapi, apa pasal? Pete di warung pecel lele langganan habis! ya Tuhan. Tapi toh, kami tak putus asa. Perjalanan mencari pete dihabiskan dengan mengunjungi setiap warung pecel lele di Batu Sari, Rawa Belong, Palmerah, hingga Syahdan. Hasilnya? Nihil.

Setelah berputar-putar selama 45 menit, kami nyaris putus asa.
Selain melawan dingin, kami harus berjuang dengan perut keroncongan minta diisi.

Saat itulah, saya mengutip apa yang dikatakan Harold kepada Kumar, “teman, ini bukan lagi soal burger (pete), tapi bagaimana mendapatkan apa yang kita mau,”. Dan, kami sepakat melanjutkan perburuan pete.

Saat itulah, tiba-tiba Trian teringat (knapa nggak dari awal monyong!) warung nasi di sebelah kosan yang biasanya menjual bete, euh, pete.

Betapa senangnya kami melihat pete itu benar-benar ada. Meski sedikit terkejut melihat harganya (2 rebu satu helai!, bo), tapi it worth every peny and energy. Kami bawa 2 pete itu ke warung pecel langganan, dan minta digorengkan. Rasanya enak sekali, bahkan kami sama-sama tambah nasi. Ha!


Tinggalkan komentar...



Categories: DAILY BLOG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: