Kalau tak salah, Socrates pernah berujar, “selera adalah sesuatu yang tak bisa dipaksakan,”. Ini masih ada kaitannya tentang kebingungan saya soal kesamaan atau perbedaan selera antara film Indonesia dan film luar (khususnya Hollywood).

Begini, usai menonton film Hollywood, komentar kita cenderung seragam. Dari keren, lumayan, suka, jelek, sampai gila banget, misalnya. Sebaliknya, setelah menonton film lokal, yang saya amati, terjadi perbedaan komentar yang sangat signifikan.

Ketika saya tulis Hantu Bangku Kosong sampah, Chand Parwez buru-buru menelpon saya, mengatakan kalau para ABG ngantri untuk melihat film ini.

Saya benci skenario dan editing film Ekskul, tapi Wahyu, teman saya yang referensi filmnya jauh lebih banyak mengaku bisa menikmatinya. Noorca M Masardi pun memuji-muji film terbaik FFI 2006 itu. Bahkan ia juga membandingkan Nayato dengan Garin Nugroho, yang menurut saya sangat menggelikan.

Teman saya lainnya heran melihat saya memuji-muji Long Road to Heaven. Baginya, film itu terasa dragging dan membosankan. Yang lain menimpali, LRTR tidak sama dengan persepsi bom bali seperti yang ia baca selama ini.
Saya menganggap LRTR bagus, simpel saja kok. Selain suka cerita dan scenario yang tergarap rapi, LRTR punya banyak adegan memorable. Setelah menontonnya, beberapa adegan masih saya ingat jelas. Sangat menginspirasi.

Ada yang bilang dialog Janji Joni kaku. Menurut saya, justru skenario besutan Joko Anwar itu terdengar stylish dan cool. Ketika Jomblo saya anggap bagus dan segar, tetap saja di cerca oleh Nanda Meilani di Sinema Indonesia.

Ini yang aneh, saya hampir selalu setuju dengan rating 4 bintang yang diberikan Roger Ebert pada sebuah film. Saya dan Wahyu sama-sama suka Memento, karya-karyanya Park Chan-Wook, sampai Richard Linklater, tapi tetap soal film Indonesia kita sering tak sepaham.

Tapi ah, lagi-lagi jawabannya mungkin seperti kata Socrates tadi. Trus, poin post ini apa? Ya, sekedar curhat.