Long Road to Heaven

moviescene10.jpg

Melihat Bom Bali dari Beragam Sudut Pandang

Amrozi pernah menaruh gambar porno di laptop Imam Samudra. Ali Imron kebingungan saat Jimi dan Feri sebagai eksekutor ternyata tidak bisa menyetir mobil. Sementara Muklas memilih Bali sebagai target bom, gara-gara seorang turis yang menggunakan kaos ”I love Bali” tak mengijinkannya berada dalam satu lift.

Kejadian-kejadian yang diungkap dalam film Long Road to Heaven ini mungkin nyaris tak pernah kita baca di koran atau televisi. Benar ataukah tidak, entahlah, tidak ada yang bisa memastikannya. Tapi yang pasti, kalau mau dibilang ”gimmick”, adegan itu sangat berhasil.

Long Road to Heaven (LRTH) adalah produksi teranyar Kalyana Shira Films setelah Berbagai Suami (Love for Share). Film arahan Enison Sinaro ini mencoba merekontruksi rentetan peristiwa yang berpuncak pada Bom Bali pertama sekitar 12 Oktober 2002 silam.

Berbeda dengan Oliver Stone yang mencoba tampil ”humanis” lewat WTC, LRTH tak cuma humanis, tapi juga jauh lebih berani dalam mengungkap detil detik-detik sebelum bom meledak di Paddy’s Pub dan Sari Club, Kuta, Bali. Termasuk soal pertemuan yang dilakukan jaringan kelompok teroris dalam menentukan strategi dan target pengemboman.

Menariknya, skenario yang ditulis oleh Wong Wai Leng dan Andy Logam-Tan ini tidak menyudutkan salah satu pihak. Plot dan storytelling secara bijak memerlihatkan sudut pandang berbeda dari masing-masing orang. Dari para teroris, turis yang menjadi korban, warga Bali sendiri, serta dari pemeluk Islam.

Dialog demi dialog mengalir simpel, terkadang lucu dan ceplas-ceplos. Beberapa juga terasa mengejutkan dan bermakna dalam. Jelasnya dapat membuka pikiran soal apa yang dirasakan para tokoh, termasuk menjawab berbagai pertanyaan yang timbul. Misalnya, mengapa Bali menjadi targetnya? Mengapa Paddys? Apa yang menjadi tujuan mereka? Dan, apakah memang ada jalan pintas menuju surga?

Sutradara Enison Sinaro membawa penonton terlibat emosi berbeda dengan alur yang rancak namun dinamis. Ada banyak flashback hingga rentetan peristiwa yang saling tidak berhubungan. Setidaknya ada tiga alur yang membingai film ini, sebelum bom meledak, tepat saat meledak, dan beberapa bulan setelah pengeboman.

Yang pertama adalah bagaimana para petinggi teroris, termasuk Hambali (Surya Saputra), Muklas, Zulkifli, Dr Azahari, serta beberapa nama lainnya menggelar pertemuan di Thailand untuk merencanakan target pengeboman. Selain penggambaran dialog yang penuh intrik, juga terungkap bahwa target awal pengeboman adalah pangkalan Angkatan Laut Amerika di Singapura.

Disisi lain, terlihat pula bagaimana hubungan tidak harmonis antara Amrozi dan adiknya Ali Imron dengan Imam Samudra yang saat itu berada di Bali. Amrozi menganggap Samudra sebagai pemimpin operasi tidak becus. Selain para aktor yang berakting begitu luwes, Enison seolah-olah memuat penonton larut dalam emosi dan ketegangan yang mereka rasakan.

Alur berikutnya adalah Hannah Catrelle (Mirrah Foulkes), peselancar Amerika yang melihat langsung peristiwa pengeboman. Hannah yang ikut membantu korban bersama para relawan lainnya bertemu dengan Haji Ismail, pria muslim yang tinggal di Bali serta seorang pria Australia yang mencari anaknya yang hilang.

Terakhir adalah Liz Thompson (Raelle Hill), wartawan Australia yang datang ke Bali tujuh bulan setelah pengeboman. Ditemani oleh Wayan Diya (Alex Komang), supir taksi yang kehilangan salah satu keluarganya pada tragedi tersebut, Liz menyadari fakta yang mengubah pandangannya.

Awalnya mungkin butuh sedikit penyesuaian untuk mencerna ketiga alur yang tampil dengan tempo yang lumayan cepat. Namun, LRTH semakin intens di tengah hingga akhir. Film ini mungkin tidak dramatis dan mengharu-biru, namun cerita serta lontaran dialognya mengajak kita untuk tersenyum bijaksana.

Overall, menonton LRTH selama 100 menit, jauh lebih intens dan membuka pikiran daripada membaca atau melihat berita di media soal Bom Bali selama ini.


Tinggalkan komentar...



Categories: DAILY BLOG

2 replies

  1. Wah, keren banget reviewnya mas. Saya aja bingung, banyak orang komentar bahwa film ini gak bagus. Film ini harus diacungin jempol lho. Tul gak mas?

  2. iya. banyak yang bilang gitu. nggak tau kenapa tapi film ini ngena banget sih ke saya. hehe.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: