Quick Thinking

Lawakan “menertawakan diri sendiri” Tukul di Empat Mata membuat saya terbahak-bahak setengah mati. Yeah, who doesn’t?

Misalnya saat dia menyebut Riko Ceper, “Riko itu Rintihan Konyol?,”, atau bertanya pada Maria Eva, “Va, lebih sedih mana kamu ato korban Lapindo?”, :)) Dan yang semalam saat ia menyebut mimpi buruk sebagai, “dream horror”. Wakakaka.

Tukul melawak semudah memesan McDonald lewat telpon, benarkah?

Memang, nyaris apa yang diucapkan Tukul bisa mengundang tawa. Ini juga yang disebutnya sebagai quick thinking. Kalau ada kru-nya, misalnya si cewek pengantar minuman yang suka garing, Tukul buru-buru menimpali, dan membuat acara gayeng lagi. Itu yang emmbuat tukul hebat. Dan lawakannya juga sangat mainstream. Dari orang Surabaya, Medan, Bandung semuanya bisa ikut tergelak.
Melontarkan lawakan yang bisa melarut di semua “daerah” itu susah sekali.

Saya, misalnya, sebagai orang Surabaya, suka lawakan yang straight forward, pedes, keras, dan kadang menyinggung perasaan. Saya hanya tersenyum melihat OB atau lawakan Project Pop, meski bisa tergelak saat melihat Friends atau Seinfeld.
Sebaliknya, orang Bandung mungkin melihat orang Surabaya kalau bercanda cenderung kasar.

Kalau ingin tahu betapa susahnya melawak, semalam ada acara serupa di Indosiar. Ada Indro Warkop, Taufik Savalas, Moamar Emka, dan seorang narasumber tentang gurah vagina.
Taufik, yang menurut saya pelawak bagus, tak membantu. Acaranya garing, serba canggung.

Indro melawak seperti anak IPS mengerjakan soal Kimia : susah, dan hasilnya belum tentu bagus.


Tinggalkan komentar...

2 thoughts on “Quick Thinking”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.