Roh, The Evil Spirit

Lagi, Soal Arwah Penasaran         

 ok4.JPG       

Sedikit tips untuk menonton film horor Indonesia. Satu, jangan menyimpan ekpektasi terlalu tinggi. Dua, siap-siap tutup kuping karena soundtrack yang menyayat telinga. Tiga, harap maklum dengan akting seadanya.   

 Pahit, tapi memang harus diakui kenyataan bahwa tema film horor di Indonesia cenderung seragam. Melulu soal arwah penasaran yang kemudian balas dendam. Ada yang disakiti, hingga kemudian terbunuh atau bunuh diri? Check. Arwah penasaran? Check. Penampakan hantu rambut panjang-baju putih? Check. 

 ”Roh, The Evil Spirit” pun mengolah mentah-mentah premis diatas. Menurut release yang kami dapat, film ini adalah remake dari ”Roh” pada 1989 yang dibintangi bintang panas Sally Marcellina. Sementara sutradara Atok Suharto adalah orang yang bertanggung jawab terhadap ”Bukit Berdarah” (1985), ”Godaan Cinta” (1994) hingga ”Si Manis Jembatan Ancol” (1994).  

 Cerita dibuka saat sejumlah remaja melakukan kemping di sebuah hutan perkemahan. Ririn (Zhe Zhe Shahab) dan Andi (Renaldo Thompson) yang saling bercanda, dikejutkan dengan munculnya arwah penasaran. Ririn kerasukan. Alih-alih membawanya ke paranormal, ia justru diboyong kerumah sakit. Tangan dan kaki Ririn diikat, sementara mulutnya terus berteriak-teriak histeris.Bramantio (Tabah Penemuan),–kalau bisa disebut paranormal—memilih mengajak mengajak polisi dan Andi kembali ke TKP untuk melakukan penelusuran, daripada membacakan doa untuk mengusir setan yang bersemayam di tubuh Ririn. Entah apa yang dicarinya, yang pasti tiba-tiba seekor burung gagak melintasi mereka. Ponsel Andi berbunyi, dan uh-oh, Ririn meninggal.    

Kini fokus berpindah ke Nadya (Rini Yulianti), teman dekat Ririn dan pacarnya Gilang (Ryan Delon) yang supersibuk. Sejak Ririn meninggal, giliran Nadya yang mengalami kejadian-kejadian aneh. Dari lampu yang bergetar, meja goyang, hingga sekop yang jatuh sendiri.Tapi, semua perkataan Ririn tak ada yang dipercaya Gilang. Gadis ini menjadi paranoid, meminum pil tidur berlebihan, dan terus berusaha untuk mengungkap misteri dibalik kejadian-kejadian aneh yang menimpanya. Yang belangkan merujuk pada seorang gadis bernama Bella (Putri Patricia) dan Dodo (Zaenal Abidin Domba) si penjaga villa.

Atok Suharto memilih pendekatan berbeda dengan meniadakan penampakan hantu yang frontal. Itu sudah cukup berhasil sebenarnya, tanpa perlu tambahan efek cymbal dan drum yang berlebihan seperti laiknya adegan sinetron. Sayang, skenario Kreshna Armand membuat alur dan karakter terus berputar-putar di tempat yang sama hingga durasi film mencapai setengah.

Belum lagi dialog yang seolah membuat ”Catatan Si Boy” saat ini masih dianggap keren oleh anak muda. Simak saja adegan ketika Ririn berujar, ”mari kita menaburkan benih-benih cinta dan mengobarkan api asmara,”. Itu, diperparah dengan akting beberapa aktor pendukung/figuran yang seolah mereka sedang berdialog dalam drama SMA.

Klimaks dari cerita, seharusnya cukup menarik dan catchy. Tapi, lupakan ”Misteri Illahi”, spesial efek yang digunakan film ini membuat ”Misteri Siluman Ular” dan ”Misteri Gunung Merapi” terlihat hebat dan berkelas.


Tinggalkan komentar...

2 thoughts on “Roh, The Evil Spirit”

  1. film ROH “the evil spirit” jelek banget, baik itu ackting, gaya bicaranya, dll dech. kalo buat film yang bener dong. udah ngeluarin uang, hasilnya nggak menyakinkan. JELEK.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.