Ke-ti-lang

Saya sering membayangkan hidup ini sebagai sebuah film panjang. Kali ini, saya harus mengalami adegan di film komedi ala Adam Sandler atau Jim Carrey.

Shit actually happen to me.

Setelah merasa beruntung karena asuransi mengkover motor HSX saya hanya dengan potongan 10%, rasanya tak sabar untuk segera mengambil motor itu dirumah kakak saya. Di kelapa Gading. Karena memang motor itu atas nama kakak.

Semenjak motor hilang, saya menumpang Bobby, teman satu kos. Setiap hari berangkat jam 9 pagi, mengantarnya ke kantornya di Tulodong, kemudian menuju kantor saya di Kebon Sirih.

Sebelum Maghrib, saya harus memacu motor Tornadonya–yang berkecepatan maksimal 60 km perjam–, melawan kemacetan dan sopir-sopir bus gila di Sudirman.

Setelah STNK jadi, malamnya saya mengajak ulum, teman kos lain, ke Klapa Gading menaiki motor Bobby. Semua berjalan lancar sampai kawasan Kemanggisan. Ada operasi yustisi disana.

Seharusnya aman-aman saja, karena kondisi motor lengkap. Sampai, tiba-tiba ada seorang polisi yang menyuruh saya minggir. Maunya kabur, tapi ia terlanjur meraih tangan kanan saya.

Saya masih berpikir tenang soal SIM yang tak saya miliki sejak Semester satu kuliah. Karena satu, ada kartu nama (pengganti kartu pers). Ini sering berhasil. Kalaupun tidak, Plan B-nya, ya damai sajalah.

Diluar dugaan, kedua rencana itu sama-sama gagal. Kartu nama ia kembalikan dengan santainya, dan polisi bertampang dingin itu juga menolak untuk disuap. What the??!!

Akhirnya, saya ditilang (haha!) dan harus sidang seminggu lagi. Kini saya mulai berpikir untuk mulai mengurus KTP di pak RT, dan mulai membuat SIM.

Moral lesson : Wrong police, wrong time.

Ini ada petikan adegan saat itu :

Saya : jadi, saya ditilang nih pak?

Polisi : ya.

Saya : terus, besok saya liputan gimana?

Polisi : ya liputan aja. (sembari ngeloyor pergi)

Saya : ????? kampret!

(turun dari motor, dan menghampiri)

Saya : Pak, jangan ditilang deh. Saya butuh STNKnya. Nggak bisa damai nih?

Polisi : silahkan..(tangannya memberi kode bagi saya untuk segera pergi).

Saya : duh pak, damai aja deh.

Polisi : silahkan..(idem)

Saya : ???!!grmmbbbll*#(@*#(*@

(ngloyor pergi dan misuh2 dalam hati, “salah apa aku ya bisa apes gini?”)

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tinggalkan komentar...

1 thought on “Ke-ti-lang”

  1. BTW, tentang Tilang? Ada pelajaran berharga dengan melengkapi identitas diri. Walau surat-surat lengkap, untuk tebar-tebar pesona ke Polisi dan bersahabat dengan mereka ada untungnya – (catatan: hanya berlaku untuk kota kecil seperti Pontianak).
    Justru, paling senang adalah ketika helm hilang saya justru menelepon polantas. Saya berargumen minta dikawal hingga saya bisa membeli helm di tempat yang harus berjalan jauh dulu.
    Mereka menolak lantas saya paksa sambil tetap berargumen, tidak pakai helm dan tidak mau beresiko ditilang temannya hanya lantaran kehilangan Helm.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.